Merantau


Apa yang ada di pikikanmu tentang merantau? 
Secara umum, biasanya merantau dapat diartikan sebagai kegiatan pergi keluar dari rumah, hidup mandiri dan tidak lagi tinggal bersama orang tua. Entah itu untuk tugas belajar, sekolah atau kuliah, misalnya. Selain itu, bisa juga merantau dalam rangka bekerja. Atau mungkin karena sudah menikah, biasanya akan pisah rumah dengan orang tua.
So, kalau kamu merantau tidak dalam rangka beberapa hal yang telah disebutkan di atas, itu berarti kamu kabur dari rumah, atau jangan-jangan diusir oleh orang tua! πŸ˜‚πŸ˜‚

Kembali ke topik; Merantau.
Jujur, ini adalah "cita-cita" alias keinginan sejak kecil yang sangat aku impikan. Namun akhirnya baru terlaksana saat ini.
Mari kita flash back sekira dua belas tahun lalu.

Saat itu, aku hendak tamat SD dan di dalam hati kecil ingin melanjutkan ke sekolah Islam berasrama alias Pondok Pesantren. Alasannya? Karena ingin merasakan hidup mandiri, tidak bersama orang tua. Pasti seru, pikirku saat itu.
Namun, keinginan itu gagal, lantaran aku dinyatakan diterima di salah satu SMP Negeri melalui jalur undangan tanpa tes (PMDK kalau tidak salah namanya). Ini adalah kesempatan yang sangat sayang dilewatkan.

Fyi, kesempatan ini hanya diberikan kepada orang-orang yang nilainya terbaik di sekolah. Hanya tiga orang dari seluruh angkatan di sekolahku yang berhak mendapat tiket ini.
Jadi, jelek-jelek gini, aku pernah jadi mahasiswa berprestasi, walaupun hanya saat SD, hehehe.. πŸ˜Ž

Lanjut ke bangku SMP.
Saat kelas IX alias kelas 3 SMP, aku punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA favorit di provinsiku. Kalau sekolah pada umumnya menggunakan nama SMA Negeri 1 Kota Y, atau SMA Negeri 2 Kota Z, dan seterusnya. Sekolah yang hendak aku tuju saat itu cukup berbeda. Tidak ada nomor dan bukan nama kota atau kabupaten di belakangnya, Melainkan provinsi. SMA Negeri Provinsi X. Begitu nama sekolahnya.

Kenapa sekolah ini begitu menarik? Sebab SMA Negeri Provinsi X berstandar internasional dan berasrama. Para siswanya mendapat banyak fasilitas seperti makan tiga kali sehari, pakaian, laundry, dan uang saku. Dan yang palin menarik adalah... Sekolah ini gratis!
Hayoo, siapa yang tidak tergiur dengan fasilitas seperti itu.

Memang sih, seleksinya sangat ketat sekali. Kalau tidak salah, hanya 100 orang yang diterima. Hasilnya? Aku gagal dalam seleksi sekolah tersebut. Jadi, aku masuk ke SMA Negeri "biasa" yang ada di kotaku.
Keinginan untuk merantau (walaupun jaraknya hanya sekitar 6 km dari rumah), kemudian hidup mandiri tidak bersama orang tua kembali kandas.

Skip.. Skip..
Oke, kini aku telah menjadi siswa SMA Negeri yang jaraknya hanya sekira 3 km dari rumah. Cukup dekat memang, tapi tetap saja aku masih sering terlambat! 😁
Ketika duduk di bangku kelas XII alias kelas 3 SMA, aku punya keinginan untuk berkuliah di Pulau Jawa. Entah itu di Kota Depok, kampus yang ada kata Indonesia-nya di namanya, atau ke Institut Teknologi yang ada di ibukota Jawa Barat, atau ke kampus yang pertama kali dibangun oleh Pemerintah Republik Indonesia di provinsi istimewa.

Namun, setelah berdiskusi panjang lebar dengan bapakku, aku tidak diizinkan kuliah di sana. Aku hanya diizinkan untuk kuliah di daerah asal saja. Tidak usah ke luar provinsi, atau bahkan keluar pulau.
Alasannya, realistis saja. Walaupun kuliah itu gratis dan akan ada beasiswa, tetap saja uang itu tidak cukup karena aku makannya banyak! Ehh, nggak, bercanda.
Menurut orang tuaku, uang itu tidak akan cukup untuk biaya kos, makan dan keperluan lainnya. Pun, apabila cukup, bisa jadi pas-pasan sekali. Orang tua ku juga tidak punya uang banyak untuk memberi uang kiriman setiap bulan. Jadi lebih baik realistis, ambil kampus yang dekat dari rumah saja.
Well, lagi-lagi, hasrat untuk merantau kembali gagal.

Singkat cerita.
Akhirnya, aku diterima di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang ada di provinsiku. Alhamdulillah, SD hingga kuliah di sekolah negeri terus.. 😁

Kampusku, secara umum punya dua lokasi. Ada yang di Palembang, ada yang di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir. Aku mendapat kampus yang terletak di Ogan Ilir, sedangkan aku tinggal di Palembang. Jarak dari rumah ke kampus sekitar 40 km. Kalau naik kendaraaan umum bisa memakan waktu satu setengah hingga dua jam perjalanan.
Aku sudah sempat ngomongin kampusku di postingan Jalan-Jalan ke Kampus.

Sebuah aha moment kemudian terjadi. Biarpun gagal merantau kuliah ke Tanah Jawa, bagaimana kalau aku merantau ke kabupaten tetangga saja. Dua jam perjalanan pergi dan dua jam perjalanan pulang, total empat jam di jalan, cukup melelahkan. Ini bisa menjadi hujjah-ku di depan orang tua untuk diizinkan untuk menjadi anak kos saja ketika kuliah.
Daripada waktu selama itu dihabiskan di jalan, lebih baik dihemat dengan tinggal di dekat kampus saja.

Ada banyak pilihan saat itu. Pihak kampus sendiri menyediakan fasilitas, ada Rusunawa (Rumah Susun Mahasiswa) seharga Rp 150.000,00 per bulan. Kalau mau yang lebih bagus fasilitasnya ada asrama mahasiwa seharga Rp 300.000,00 per bulan. Kalau masih mencari yang lebih baik lagi dan kamar yang lebih luas, ada apartemen mahasiswa seharga Rp 7.200.000 per tahun, atau sama saja dengan Rp 600.000,00 per bulannya.
Kalau harganya salah, mohon dikoreksi yaak!

Bagaimana tanggapan orang tuaku? Seperti yang sudah bisa ditebak, mereka tetap saja menolak. Alasannya, lebih baik capek di jalan, daripada capek di kos harus memikirkan mau cari sarapan apa dan dimana, mau mencuci ini, menncuci itu, belum lagi setelah itu masih mau membuat tugas kuliah, dan sebagainya.
Lebih baik di rumah saja, kalau mau makan tinggal makan, sudah tersedia. Kalau mau berangkat ke kampus tingal bawa bekal. Mau jajan langsung ambil sendiri di warung (ibuku punya warung di rumah). Tidak pusing mau mikir hal-hal lain, dan bisa lebih santai untuk mengerjakan tugas.

Namun, bapakku berjanji. Apabila nanti aku telah tamat kuliah, dan hendak bekerja ke luar kota atau ke luar pulau. Itu beda cerita, tentu saja beliau mengizinkan.

Setelah sekian purnama berkuliah dengan segala drama dan tetek bengeknya, akhirnya aku lulus juga. Alhamdulillah sempat diwisuda secara langsung, tidak online seperti adik-adik tingkatku sekarang. Aku diwisuda di pekan ketiga bulan Februari 2020, sedangkan Corona resmi masuk ke Indonesia di pekan pertama bulan Maret 2020. Aku adalah angkatan terakhir yang diwisuda secara langsung.
Nyaris sekali, bukan! 😎

Kemudian, kehidupan sesungguhnya dimulai. Setelah sedikit kerja serabutan di kota sendiri, dan tetap "menebar jaring" lamaran ke berbagai perusahaan yang ada. Akhirnya jaring tersebut ada yang "nyangkut" juga. Kali ini aku benar-benar diizinkan oleh orang tuaku untuk merantau, setelah penat menunggu sejak SD hingga sekarang. Impian itu ternyata datang juga pada akhirnya.

Aku kini pergi jauh dari rumah dan orang tua, walaupun tidak terlalu jauh juga, sih. Hanya sekitar 7 cm dari peta. Hanya satu jam perjalanan pesawat. Bahkan lebih cepat daripada waktu dari rumah ke kampus! πŸ˜‚

Tantangan baru saja dimulai. Apakah nanti aku akan penat tinggal jauh dari orang tua?
Kita tunggu saja! Hiiihi..

Gambar tidak ada hubungan :)

Share:

68 komentar

  1. Seru-seru Kang Mas Joe ceritanya.. 🀣🀣 ditunggu cerit selanjutnya ya.. Kalau akun sndiri. Merantau memang sudah jalan ninja keluarga.. haha. Yah meskipun kita masih di kitaran Pulau Jawa.

    Awal pindah dari Magelang ke Ujung barat Banten, pas umur 5 tahun. Terus sekolah disini smpe akhirnya lulus jadi warga sini. Sedangkan kuliah, aku balik lagi ke Semarang buat merantau.. seru sih.. yah walaupun kadang Homesick, terus keterima kerja di Kota sendiri, nyambi kuliah lagi di Jakarta.

    Duhh malah curhat.. kebiasaan emang.πŸ˜‚πŸ˜‚
    Semangat dan sukses buat tempat barunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya, keluargaku jg keluarga perantau sih. Hehehe...
      Nanti di post selanjutnya mau cerita nih πŸ˜€

      Hapus
    2. @ Bayu ,:

      O, yaaa .. mas Bay pernah tinggal di Magelangkah ?.
      Magelangnya dimana, mas ..

      Hapus
    3. Kalo yang aku baca mas Bayu malah asli Magelang mas.πŸ˜„

      Eh Magelang apa Semarang? πŸ€”

      Hapus
    4. Naaah jadi dimana hayooo πŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
    5. Asli Temanggung, pindah ke magelang terus pindah lagi ke banten.. 😁

      Hapus
  2. 7 cm dari rumah, dengan jarak tempuh 1 jam naik pesawat. Wah, sekali merantau langsung naik pesawat ya, ananda Dodo. Keren. Selamat malming. Terima kasih curhatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membaca cerita ini bund πŸ˜€πŸ™

      Hapus
  3. Kikikiw~ akhirnya bisa merantau juga ya Do 🀣. Gimana rasanya? Lebih enak merantau atau di rumah bareng keluarga? Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nampaknya lebih enak di rumah. Namun untuk hidup yg lebih baik, tidak ada masalahh eaakkk

      Hapus
  4. Kalau saya lebih suka kerja dekat namun masih sama orang tua jujur kalau merantau itu selain kalau sakit gak ada yang merawat merantaui itu kehidupannya juga belum tentu baik apalagi cewek bikin was - was .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cowo juga bikin was2, cowok bisa buncit juga kan 🀣🀣

      Hapus
    2. Nah benrr.... Bikin was was yaa πŸ˜…

      Hapus
  5. merantau ke negeri orang memang enak ya mas, karena bisa memperbanyak pengalaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betull... Walaupun ini konteks nya masih dalam negeri sendiri. Masih di Indonesia kok πŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
  6. Asiik yang udah jadi anak Jabodetabek nih sekarang.. ^^ Akhirnya impian dari kecil untuk merantau terwujud juga ya, Do. Semoga sukses selalu yaa di pekerjaan barunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asikkk. Yoi mbak, gue udah jadi anak Jabodetabek nih hahahah

      Aamiin, terima kasih banyak atas doanya mbak

      Hapus
  7. Selain mencari penghasilan dan ilmu, merantau kadang membantu kita dalam membentuk kepribadian kita...

    BalasHapus
  8. Selamat merantau. Akan banyak pengalaman yang diperoleh dari sana.

    Saya merantau pas zaman kuliah. Sekarang malah ngga boleh kemana-mana sama ortu. Sudah menikah pun, rumah bersebelahan dengan ortu. πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaah enak dong rumahnya sebelahan sama orangtua. Jadi kalo ada apa apa, bisa cepet yaa mbak

      Hapus
  9. Akhirnya merantau juga setelah sekian lama ditahan sama orangtua ya Mas. Ya namanya orangtua mungkin emang pengen deket terus sama anaknya ya, atau mungkin pengen anaknya nggak kebanyaka ngabisin duit ortu haha , Piiss...

    Itu juga wisudanya beneran nyaris banget ya, sebulan lagi telat udah wisudah online itu nanti haha

    BTw, selamat merantau.. selamat berjuang di tempat baru, semoga sukses yaaa Mas :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, bisa jadi pengen deket terus sama anaknya yaa hhaaha

      Hapus
  10. Alhamdulillah congratz atas pekerjaan barunya do.. semoga betah dan amanah selalu. Aamin YRA

    Btw, ini jarak 7 cm di peta yg skala berapa?? Jd penasaran apakah kamu merantau ke Jakarta apa ke Batam? Apa kemanaa? Hehehe #kepo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih banyak, mbak..
      Hayoo coba tebak πŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
    2. Whaha Uda ask the audience ternyata jawabannya ke ibukota dan sekitarnya hahaha

      Hapus
  11. Kenyang aku merantau Do..Ke Palembang sudah hampir 10 kali malah, Mantan orang palembang 2 apa 3 lupa aku juga..🀣🀣🀣


    Intinya sejauh2nya kau mengembara akan ada saat dimana kau merindukan tempat dimana kamu dilahirkan..😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaaaaha, Om Satria buaya juga nihh... πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    2. Whuaaahh kalau ga bisa Jd mas Sat tetanggaan sama kita ya Do..

      Tapi tetap mbak Sat yg skrg jodoh yg terbaikπŸ‘πŸ‘

      Hapus
  12. Wuih, berarti sekarang kamu udah kerja merantau, Do ?. Di kota mana ?.
    Selamat ya.


    Ngobrolin merantau aku jadi nyesel resign kerja di Jakarta buat tinggal menetap dan kerja di kampung halaman.
    Rasanya pengin balik kerja lagi di Jakarta tapi belum ada kesempatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Panas Mas Hima.. enak disana banyak destinasinya.. di Jakarta mahh apa..

      Hapus
    2. Hayoo coba tebak di kota mana...
      Eh tunggu, aku tinggalnya bukan di kota, tapi kabupaten dong.. πŸ˜…

      Hapus
  13. Wah bersyukurnya mas masih kebagian wisuda offline, kalau telat nyelesein skripsinya auto masuk wisuda jalur korona itu, apalagi waktu itu lagi ketat2nya, bnr2 offline wisudanya.

    Semoga betah di tempat kerja ini ya mas, sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, bersyukur banget deh mbak..πŸ˜€

      Btw terima kasih atas doanya

      Hapus
    2. @ Bayu :

      Kalo daerah domisiliku banyak lokasi wisata buat hiburan sih, iya.
      Jakarta wisatanya gitu2 saja.

      Cuman, Jakarta kotanya hidup terus 24 jam.
      Itu yang kusuka.
      Aku ngga suka kesepian karena hatiku udah sepi ..haha..apaan coba ngomong giniii ��

      @ Dodo :

      Aku tebak, di ... Tangerang.

      Tul kan yeii ��?

      Hapus
  14. sama do...ku juga keterima lewat pmdk walau sma ku juga dekat rumah dan ga masuk sma favorit di kabupaten

    lalu cita cita pas kul pengen di depok yang ada kata indonesianya juga institut di bandung lagi lagi ga kesampaian...melipirnya malah ke Bogor hahhaha

    tapi menurut aku hitung hitungan biaya ala ortu dodo uda tepat kok...dan lebih efektif memang merantaunya pas sudah kerja begini. kArena kan otomatis sudah berpenghasilan. Kalau pas ngekosnya itu masa masa mahasiswa harus pinter pintwr nyari peluang daftaran beasiswa buat ngringanin beban ortu bayar spp dll..
    btw selamat ya do...welcome to the jungle di dunia yang sesungguhnya..semoga barokah dan betah..dinikmati sambil mengumpulkan tabungan untuk masa depan ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya yaa, kalo udah berpenghasilan sendiri, lebih snak jadinya yaa mbak

      Btw terima kasih atas doanya πŸ˜€

      Hapus
  15. Wah aku malah sudah merantau sejak putus sekolah SD mas Dodo, karena memang waktu itu keadaan tidak memungkinkan untuk lanjut sekolah lagi jadinya ya merantau.

    Waktu awal awal merantau sih kangen banget rumah bahkan kadang aku pakai gmaps untuk lihat kampung halaman, sekarang mah enggak, sudah betah.

    Semoga Dodo betah juga merantau nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nampaknya om Agus sdh sangat kenyang yaa dalam memakan asam garam kehidupan
      Semoga sukses juga untuk kita semua.. πŸ˜€

      Hapus
  16. Akhirnya kesampaian juga Dodo merantau jauh dari rumah ortu. Bikin orang penasaran aja ke mana merantaunya? Luar pulau pasti karena naik peaawat. Jadi anak peratauan ye? Jangan pulang lho sebelum jadi sukses ya ? Becanda Wkwkkwk.. itu motto dari perantau sejati..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkkw ga harus nunggu "sukses" dulu baru pulang. Asal ada uang dan kesempatan, pulang kok. Mumpung pulang kampung alias mudik hari ini blm dilarang, cusss pulang... πŸ˜€

      Hapus
  17. Aku menunggu lagi untuk bisa merantau yang jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh-jauuuuuuuuuuuuuuuh sekali nih :D

    BalasHapus
  18. Waaah merantau ke mana nih, Mas Dodo? 7 cm di peta dan 1 jam naik pesawat... Pulau Jawa sih kayaknya, tepatnya Jakarta yaa soalnya cuma naik pesawat sekali *sotoy sekali si eya* πŸ˜‚

    Well selamat bergabung dengan tim anak rantau Mas Dodo, salam dari anak rantau lebih dari 10 tahun tapi masih tetanggaan sama kota tempat tinggal ortu wkwk.. Gimana rasanya merantau? Pusing ga nyari makan tiap hari? 😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk bisa jadi sih, mbak Eya. Walopun naik pesawat sekitar 1 jam dn satu kali itu ga hanya Palembang ke Jakarta. Bisa Palembang ke Medan, Palembang ke Batam, Palembang ke Bandung, dan kota2 lainnya hahaha

      Hapus
  19. weh 7cm dari rumah, 1 jam dengan pesawat.. ini kalo soal matematika harus pake rumus skala.. wkwkwk..

    BalasHapus
  20. Waaah Dodo dimana skr? :D

    Tadinya pas kamu bilang pgn SMU yg di propinsi X itu, aku nth kenapa lgs mikirnya SMU modal bangsa di aceh yg aku tahu juga internasional dari dulu. Dan ada boarding. Tp kayaknya bukan yaa, kalo cuma 6 km dr rumah :D.

    Aku dulu mulai merantau pas SMU kls 3. Dikirim ke Al Azhar Medan. Ortu msh di Aceh dulu. Kenapa Al Azhar Krn ada asrama, jadi tenang :p. Mungkin Krn udh biasa jauh dr ortu sejak SMU, jdinya pas kuliah LBH jauh lagi dikirim ke Malaysia :D. Tp sbnrnya Deket sih kalo jaraknya dr Medan. Pesawat aja cm 30-40 menit. Ga sampe sejam hahahahah . Lebih jauh Medan - Jakarta. Lulus kuliah, baru merantau sesungguhnya yg mana aku udh ga dibiayai lagi Ama ortu :D. Rezekinya di Jakarta, jadi merantaunya kesana. Jodohnya jg ketemu di sini :D.

    Semoga ntr kamu juga sukses yaaa di tempat baru :). Dan bisa lebiiih banyak melanglang buana :). Dari dulu impianku itu bisa ngerasain banyak berpindah. Mungkin Krn aku suka traveling sih, jd ngerasain tinggal di mana2, itu asyik aja. Buatku loh yaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Krn dari cerita cerita aku sebelumnya kan, aku bilang bahwa aku tinggal di Palembang. Jadi SMA Negeri Provinsi X adalah apa hayooo coba tebak, hiiihi...πŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
  21. Lebih dari 10 tahun hidup di perantauan, tapi merasa masih belum mandiri :)

    BalasHapus
  22. Lucu juga kalo keinginan merantau ditahan-tahan...! Saya udah sejak lulus SD tinggal di rantau sampai sekarang malah kerasan di sana 🀣

    BalasHapus
  23. Selamat ya, Dooooo. Akhirnya udah ada yang nyantol juga, dan bisa merantau. Yeay πŸ˜†

    Ngomong-ngomong kita sama lho, Do. Aku dulu dari TK sampai kuliah juga di kampung halaman. Baru bisa merantau pas kerja. Terus nikah, ikut suami, ternyata merantau di kota lainnya lagi. 😬

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahha, cukup seru juga ya perjalanan hidup mbak Roem. Aku nanti setelah nikah gimana yaa, apakah msih di kota ini atau balik ke palembang atau gimana yaaaak.
      eh terlalu jauh sih, bicaranya. Tahun depan, atau dua tahun lagi, Apakah aku masih di sini atau tidak. Apakah aku masih hidup atau tidak, tidak ada yg tahu, hihiiiihi

      Hapus
  24. saya sudah sebelas tahun merantau di Jakarta, sejak kuliah sampai kerja dan menikah di Jakarta. dari yang gak punya teman hingga punya banyak teman. dari yang gak tahu ke mana-mana sampai pengen ke mana-mana. menyenangkan kok

    BalasHapus
  25. kata pepatah, jauh berjalan luas pandangan ;-)

    BalasHapus
  26. p/s mas, saya ada beberapa perkara mahu tanya mas. kalau sudi, balas di blog saya. boleh ke?

    1. apa maksud anak aksel?
    2. S2 = Masters programme?
    3. tes kuliah di luar negeri dipanggil apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh Ciikk...
      1. anak aksel adalah anak kelas akselerasi atau percepatan (acceleration). Misal, sekolah yang seharusnya 3 tahun, menjadi 2 tahun sahaja.
      2. Yaa betul. S2 adalah Master Degree. Kalau S1, bachelor degree (sarjana), sedangakan S3 adalah program Doktor (Dr. atau Ph.D.)
      3. tidak tahu, hehehe

      Hapus
  27. Semoga sukses di tanah perantauan ya Mas. Semangat πŸ’ͺ

    BalasHapus
  28. selamat ya dooo, akhirnya bisa merantau juga. wkwk

    selamat juga jadi anak negeri terus selama mengnjak bangku pendidikan.

    Merantau itu memang seru sih, tapi awal-awal merantau itu aku mewek mulu bawaannya. padahl pas masih di rumah bayanganku tentang merantau itu indah banget. Tapi serunya merantau itu kita bisa lebih mengenal diri kita yaa. dan tentunya menemukan teman dan pengalaman baru. hati hati aja dengan culture shock

    BalasHapus
  29. pemikiran keluar dari rumah alias merantau, pernah banget aku alami waktu SMA. Dulu pas SMA pengen banget kuliah di luar kota, entah kenapa, pokoknya pengen keluar dari rumah
    dan alhamdulilah keterima di Malang, awal awal jadi anak rantau memang homesick, tapi setelah bertaun taun jadi anak rantau, betahh banget hahaha
    malah Malang udah kayak first home aku, bukan second home lagi, saking cintanya sama kota ini

    BalasHapus
  30. keinginanku untuk merantau itu dari sejak memilih SMA! Ingin pergi ke Jakarta yang sebenarnya 60km aja sih dari rumah. Ga jauh-jauh amat, cukup 1 jam perjalanan. Tapi ga diijinkan sama orangtua. Jadi barulah kuliah bisa hidup mandiri hihihi
    pas pertama kali tinggal sendiri, aku demam dong! Jadi ibu masih nemenin wkwk kocak banget!! Terus akhirnya seneng bisa hidup mandiriiii hehehe

    Dodo penantiannya sungguh panjang ya. Akhirnya merantau jugaaa hihihi

    BalasHapus