Culture Shock; Bahasa

Matahari baru saja naik sekira tujuh hasta ketika pesawat telah lepas landas meninggalkan bandara yang ada di kota tercinta. Bandara hari itu sibuk sekali. Pesawat yang aku naiki saat itu terbang menuju bandar udara yang terletak  di ibukota negara.

Aku telah tiba di terminal kedatangan, untuk kemudian berjalan menuju keluar area bandara. Samar-samar aku mendengar bapak-bapak taksi mengobrol dengan bahasa yang aneh menurutku. Bahasa yang jarang terdengar di telinga secara langsung. Padahal, bahasa seperti ini aku sering dengar di televisi atau melalui gawai di tangan.
Saat itu, aku merasa seperti masuk ke dunia yang asing.

Yaaaps, elo, guwe, enggak, banget, hingga anjayy, anjim, anjirr dan kata-kata lain yang terdengan asik n gaul, sebenarnya adalah diksi yang biasa-biasa saja. Namun tetap saja, aku merasakan sesuatu yang aneh. Janggal di telinga.

Kekagetan budaya alias culture shock yang saat itu aku alami adalah, kendala bahasa. Walaupun aku terbiasa menulis dengan Bahasa Indonesia, namun tetap saja. Berbicara dan menulis itu adalah sesuatu yang berbeda. Untuk saat ini, aku kalau berbicara masih menggunakan bahasa yang campur-campur. Antara Bahasa Indonesia yang baku, Bahasa Indonesia tidak baku, dan Bahasa Palembang, disispkan sedikit diksi dari Bahasa Jawa.
Imbasnya, terkadang orang tidak faham apa yang aku bicarakan. Dan aku pun terkadang membutuhkan waktu beberapa detik untuk berfikir sejenak untuk menerjemahkan dari Bahasa Palembang ke Bahasa Indonesia, “Kata ***** Bahasa Indonesia nya apa yaa?”

Kembali ke paragraf yang ada di atas. Ngomongin diksi elo-guwe, menurut kabar burung (ga tau burung siapa~), di sini haram menggunakan aku-kamu. Bisa bikin lawan bicara jadi baper. Masalahnya, aku merasa aneh kalau berbicara menggunakan elo-guwe. Jadi, aku menggunakan aku-kamu, biarin deh anak orang pada baper. Siapa tau nanti ke depan bakal ada yang nyangkut, hihiii...

Oh yaa, satu lagi. Aku sangat menyukai logat dan dialek orang-orang di sini. Dulu, aku mengira orang berbicara dengan logat yang sama, ternyata berbeda-beda iramanya. Inilah indahnya Indonesia. Walaupun berbeda-beda, tetapi tetap satu jua #eaakk.

Logat anak gaul di sini, cara bicaranya banyak yang sok asik, tapi beneran asyik didengerin, kok. Orang-orang Betawi, juga asyik didengerin kalo mereka ngomong. Aku seolah-olah menonton Si Doel Anak Betawi, tapi secara live langsung di depan mata. Bapak-bapak taksi di bandara (yang aku ceritakan di paragraf pertama) mengobrol dengan dialek Betawi.

Selain itu, logat lain yang aku jumpai adalah logat Sunda, tapi agak beda dengan yang di Bandung. Ketika aku ke Bandung, logat Sunda di sana agak lembut dan berirama. Tapi di sini punya rasa yang sedikit beda dan keras, namun tetap berirama dengan alunan mendayu yang tetap khas. Seperti Sunda tapi dengan sedikit campuran Betawi.
Ada yang bisa menjelaskan lebih lanjut? Share di kolom komentar, yaaak!

Terakhir, banyak juga orang Jawa aku jumpai di sini. Jawanya beneran medhok. Yaa, aku juga orang Jawa, Pakde dan Budeku terkadang berbicara Bahasa Jawa (walaupun seringnya Bahasa Palembang), tapi logat Jawanya tidak kental. Di sini, bener-bener medhok dan aku sangat menikmati cara mereka bicara.

Ngomong-ngomong, ada hal yang cukup lucu. Aku emang sedikit-sedikit bisa Bahasa Jawa, tapi yang simpel-simpel saja. Saat itu ada mbah-mbah yang jualan sarapan. Menunya ada nasi kuning dan nasi uduk. Aku iseng bicara dengan Bahasa Jawa dengan si mbah, “Nasi uduk’e piro, Mbah?” (nasi uduknya berapa, mbah?)

“Iki enem ewu, mas,” (ini enam ribu, mas) kata si mbah menjawab pertanyaan. Kemudian beliau lanjut bertanya, “Panjenengan Jowo-ne pundhi?”

Aku langsung membatin, KENAPA BAHASA JAWA SI MBAH BEDA DARI TEMPLATE YANG AKU PELAJARI, WOKWOWK.
Untung saja aku masih bisa memahami maksudnya. Aku jawab saja, “Dari Jogjakarta, mbah.”

Beliau kembali mencecar, “Jogja-ne pundhi?”
“Kulonprogo, mbah,” kataku.
“Kulonprogo-ne pundhi?” Si mbah kembali bertanya.
“Wates, mbah. Deket Bandara baru,” aku kelelahan menjawab pertanyaan beliau.

Kini giliran aku pula yang bertanya dengan si Mbah, “Mbah-e dari Jowo-ne nang ndhi?” entah betul atau tidak grammar-nya. Kemudian si Mbah berbicara lebih banyak lagi yang kini aku benar-benar tidak faham. Wowwkkw.

Akhirnya aku mengaku, “Mbah, sebenarnya yang dari Jogja itu mbahku saja. Aku dari Palembang, mbah. Tidak terlalu faham Bahasa Jawa, hehehe.”

Si Mbah kini tertunduk lesu,dan akhirnya lanjut menggunakan Bahasa Indonesia lagi, seraya menyerahkan nasi uduk.
“Matur suwun, mbah!” kataku.

Sampai di rumah kontrakan, aku baru sadar. Si Mbah menggunakan Bahasa Jawa Kromo (halus) ketika berbicara denganku, sedangkan aku berbicara dengan beliau menggunakan Bahasa Jawa Ngoko (kasar).
Waah, apakah aku adalah anak yang tidak sopan kepda orang  yang sudah tua?
Maafkan aku, mbah!

Si Mbah jualan nasi uduk dekat masjid, sejak Subuh hari sudah buka


Share:

60 komentar

  1. Balasan
    1. Kmren sempat di Jakarta beberapa hari. Kalo Sekarang, coba tebak mbak hooohoo... 😀

      Hapus
  2. Judul tulisan ini kayaknya lebih cocok berjudul "Maafkan Aku Mbah" hihihi

    Oh yo, Lebaran balek kampong dak? Ke Kampong bagian mano Do?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cak nyo dak pacak balek, mbak. Dilarang pemerintah.
      Tapii mon maap nih. Aku bukan dari kampong, tapi kota mbak hehehehe 😂😎

      Hapus
  3. Aku mau sedikit komen soal bahasa Sunda campur Betawi ini. Ini di daerah rumahku (rumah ortu tepatnya) di Bojonggede, Bogor, banyak banget yang begini. Bahasanya campur antara Indonesia ga baku sama Sunda, tapi logatnya Betawi banget wkwkwk.

    Awal pindah ke sana juga ngerasa aneh, karena sebelumnya tinggal di Jakarta Timur dan di daerah yang orang-orangnya beneran dari berbagai macam kota. Tapi lama-lama nyadar sendiri, aku sejak merantau ke Bandung juga sering pakai bahasa Sunda (kasar) tapi logatnya logat Betawi wkwkwk. Jadi kayaknya ini tuh karena Bogor kan perbatasan Jakarta dan Jawa Barat yaa, jadi kayak warganya banyak kecampur jadi deeh bahasa + logatnya jadi campur-campur 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wooh, ternyata di daerah daerah penyangga Jakarta, bahasa seperti itu lumrah yaa mbak Eya

      Hapus
  4. Wkwk benar itu Doo, kalau di Jakarta mah ngomong aku-kamu apalagi ke lawan jenis bisa jadi baper 🤣. Kalau ke sesama jenis sih nggak apa tapi biasanya kalau cowok sama cowok ngomong aku-kamu, bakalan ada yang toyor duluan sebelum lanjut ngomong 🤣 tapinya lagi, hal ini disesuaikan dengan lawan bicara. Biasanya kalau lawan bicaranya orang Jawa/Sunda yang halus haluss, ngomong aku-kamu juga rapopo, nggak masalah hahaha
    Kalau untuk rasa makanan, mengalami shock juga nggak Do?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkw temanku bilangnya "gue-elo", aku jawabnya "aku-kamu" kadang juga "aku-kau".

      Untuk makanan, itu adalah pertanyaan yg bagus. Sedikit shock jg dengan rasa makanannya bhkan sempat muncul perdebatan kecil. Di post selanjutnya akan aku bahas insyaa allah mbak.. 😀

      Hapus
  5. Podo karo aku, aku kadang ra ngerti sama bahasa daerahku dewe, cuma bisa sitik2 😅😅 but i dont care 😅😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wess... Podo. Aku macem tu juga mas Jaey. Ngertine sikit sikit wae, dan campoor campoor bahasane 😂😂

      Hapus
  6. bTW, Orang-orang disana keras-keras nggak Mas? Senggol dikit marah-marah gitu :-D
    Mencoba menyesuaikan dengan lingkungan baru ya, kadang mau sok-sokan ikutan lo gue tapi tetep aja kedengerannya nggak pas kalo ngucapin sendiri, apalagi orang jawa, wes medok gaya-gayanan lo lo gue gue haha

    Memang butuh skill tinggi sih buat ngomong paka bahasa kromo, yang orang jawa sendiri aja kadang kosa katanya terbatas haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nampaknya tidak terlalu keras, deh
      Lebih keras orang orang Sumatera 😀😂

      Hapus
  7. Kalo kamu main ke tempatku, di lingkungan ayahku betawinya beda. Kami pakai logat melayu, kayak upin ipin, jadi apa - ape - apeu, kayak upin ipin persis lah..

    kalo persoalan baper emang sih ya, aku terbiasa pake aku-kamu ke temen, tapi kalo sama cowok yg deket ya elo gw aja, krna kalo ke lawan jenis pake aku kamu mereka suka baper.. hiks.. repot

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooo, gitu yaa mbak. Dimana tuh lokasinya?

      Hapus
    2. Di Buncit Raya, jakarta Selatan. Kamu di mananya, Do? Kapan2 mainlah..

      Hapus
  8. I feel you, Dooo. Dulu aku juga pernah culture shock masalah bahasa pas merantau ke Mojokerto. Dulu aku kerja di perusahaan milik Thailand, jadi banyak juga orang Thailand yang kerja di sana. Pas sesama orang Thailand ngomong itu, lho, kok rasanya lucu aku dengernya. Mana kebanyakan mereka suaranya cempreng-cempreng kan ya 🙈. Lihat mereka ngomong tuh, rasanya kayak lihat film Thailand.🤣

    Terus masalah logat. Ternyata Kediri dan Mojokerto, walaupun sama-sama Jawa Timur nya, logatnya beda. Logat kebanyakan orang Kediri cenderung halus dan medhoknya agak kental, mirip-mirip sama orang Solo dan Jogja. Sedangkan Mojokerto, logatnya sedikit kasar, dan dibunyikan dengan intonasi yang keras, mirip-mirip Surabaya. Jadi aku dulu kalau ngomong sama orang sana suka agak sedih. Berasa kayak dimarahi, padahal sebenarnya sih mereka biasa aja, gak niat memarahi 🤣. Dan ternyata ada beberapa kosa kata yang artinya berbeda juga. Jadi kadang aku suka salah tangkap. Ini padahal baru sama-sama Jawa Timur nya, lho. Belum beda provinsi, apalagi negara atau benua. 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooo, aku baru tau mbak... Ternyata Mojokerto emang orangnya punya logat yg keras yaak?
      Aku di sini punya teman orang Mojokerto. Menurutku, kok dia kalo ngomong nampak seperti mau marah teruus... 😂😂
      Ternyata emang logatnya gitu hahaaha

      Kalau bahasa, bahkan di Sumsel, ada beberapa kabupaten yg beda kecamatan, bahasnya beda. Kita baru berpindah 1km saja, bahasa mereka sdh beda

      Hapus
  9. waaah selamat menginjak pulau jawa mas 🥳

    btw, cobain ke surabaya mas ntar pasti lebih kaget lagi karena kasar banget haha
    aku pun nggak begitu paham bahasa jawa yang alus. biasa amannya pake bahasa indonesia 🤣

    BalasHapus
  10. mungkin burung kutilang yang menclok di dahan kali

    wkwkwk

    aku justru baper kalau diajak ngobrol pake jaga jarak saya saya saya mbaknya kayak gitu wkwkwk...aku lebih suka pake sapaan aku kamu, biarin aja hahhahahaha...soalnya kalau pake saya saya mba gitu rasaku aku kayak orang yang ga boleh akreb gitu...malah jadi males aku klo ngobrol ama yang pake saya saya saya gitu...entahlah hahahaha

    sebagai orang jawa biarin aja deh tetep yang kupake aku kamu

    klo diksi semacam anjir...anjrit..anjayyy aku kaget banget pas begitu masuk kuliah do...kan sistimnya asramaan gitu kan...sementara seasrama isinya orang satu indonesia...tak jarang yang berasal dari warga gaul bandung atau jakarya...nah aku peryama kali denger diksi ini dari temen temen kuliah yang dari jabodetabek dan juga bandung...anak daerah sepertiku melompong emang pas tau gitu hahahha...norak aku...

    bagi mereka emang uda jadi percakapan biasa...tapi baki kita yang orang jawa biasanya emang agak kaget sih dengernya wkwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa, setuju. Dengan menggunakan "saya", seolah olah sangat menjaga jarak yaaa mbak.
      Dan jg sama nih. Kita nampaknga sama sama kaget orang di Jabodetabek sering banget ngomong anjir anjing gitu yaaak. Bahahaa

      Hapus
  11. Huahahahhaha... lucu pisan euy.. ngingetin aku sama kejadian :

    Dlu pas pertama ke Semarang. Aku juga ngalami itu culure shock sewaktu mereka sering ngomong pke "aku sama kamu" 😅 sedangkan aku, seringnya pke gue sama elo...
    Terus 3 tahun tinggal disana. Udah terbiasa pake aku, kamu..
    Pas balik lagi ke Banten.. ehhh malah digunjingin karena keseringan pke kata "aku, kamu".. wkwkw

    Tapi yahh biarin aja lah.. senyamannya aja.. kalau udah terbiasa memang susah.. jadi, Kang Mas Joe nggak perlu ngubah sesuatu yg nggak perlu diubah.. wkwk 🤣

    Temen2 kuliah ku skrang ya kalau ngomong malah suka dicampur bahasa inggris khas JakTim. Tapi ya aku jojong aja, ngomong pke Aku sama Kamu..

    Oh ya. Sebenrnya orang Jawa nggk ada istilah bahasa kromo atau kasar. Selama dodo bilangnya pke bahasa jawa 'kasar' sekalipun semisal ngomongnya alus nggak petantang-petenteng yah mereka sih biasa aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo dibalik, mungkin ga ya mas. Maksusnya, pake bahasa ngoko, tapi kita ngomongnya petantang petenteng hHahahaha

      Hapus
  12. Aku pernah berdebat sama teman gara-gara satu kata "sudah". Aku yang Suroboyoan biasa pakai "mari", dibantah sama temanku orang Semarang yang menyebutnya "bar". Enggak tau kata "bar" termasuk kromo atau ngoko. Gak paham aku...!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha

      Yaaak. Beda bahasa beda kebiasaan, jadi beda persepsi tho, mas 😅

      Hapus
  13. menarikkkk... dapat belajar macam-macam bahasa dan dialek... kalaulah saya ada peluang untuk belajar macam-macam bahasa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayooo, cik. Kapan-kapanlah main ke Palembang. Belajar Bahasa Melayu Palembang kat sini 😀
      Tinggal ganti akhirnya dengan -o sahaja 😀😀

      Hapus
    2. Tunggu covid berakhir ya mas dan cucuk vaksin... dah lama berhasrat nak datang ke Palembang... belum ada rezeki lagi ;-)

      Hapus
  14. Dahulu dikira semua Mbah-Mbah kita itu pandai berbahasa Indonesia. Setelah mengenalnya lebih dekat, ternyata sama saja dengan nenek-nenek kampung kita. bisanya cuman berbahasa daerah. Selamat malam, ananda Dodo. Salam sehat berkah Ramadhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa, bahkan sampai skrang pun masih banyak orang orang tua, bahkn anak anak yg belum pandai bahasa Indonesia. Umumnya sih di daerah pedalaman. Ini menjadi PR kita bersama yaa bund

      Hapus
  15. wkwkw Dodo mah bisa ae, niat pake aku-kamu justru biar ada yg baper.

    Iya, Do kalau ga terbiasa emang agak sulit menggunakan bahasa lo-gue.

    Pun sebaliknya, ayah-ibu saya yg gede di JKt setelah 30an tahun pindah2, ga bisa menghilangkan bahasa tsb. Makanya gaya bahasa saya tuh "emang, enggak, ceban, goban, dll" abisan kebiasaan di rumah ngomongnya begitu adanya dengan keduanya.

    Btw, bahasa Palembang itu kan banyak jg yg sama dalam bahasa Jawa : lading, lawang, lanang, dll

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa bener... Krn pada dasarnya orang Palembang adalah orwng Jawa yg jaman dulu pindah hahha

      Hapus
    2. Mungkin pas zaman kerajaan Sriwijaya ya Do. Kan ada tuh yg nikah sama Pangeran apa Putri xari Majapahit

      Hapus
  16. repotnya kalau bahasa ada stratanya... hehehe

    nice story .... thank you for sharing.

    BalasHapus
  17. Wow mas Dodo sekarang udah gaul nih, pakai basa loe gue ape.😄

    Karena dulu sering nonton si Doel jadinya agak paham bahasa Betawi, tapi kalo lihat langsung lebih wow gitu ya Do.

    Semoga mas Dodo betah di Jakarta, semangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih om agus, tapi aku tidak di jakarta loh 😅

      Hapus
    2. Lho, apa di Tangerang atau Bekasi ya, soalnya kan dekat Betawi juga.🤔

      Hapus
  18. Tau ga, Do, aku udah 10thn lebih tinggal di Jakarta. Sampai skrng ga pernah sekalipun ngomong lo gue. Hahahha.. Sama kaya Dodo, rasanya ga pas aja di lidahku. Jd mnrtku, walaupun kita pindah ke tempat baru, ga semua nya hrs kita absorb kok. Pilih sesuai yg nyaman di masing2 aja..

    Semoga sukses selalu di tempat yg baru ya, Do ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, emangnya sebelumnya mbak Thessa dimana? Eh di Bandung, kuliah di ITB yaak

      Hapus
    2. Aku sblmnya di Sumbar, Do. Hehehe.. Kuliah ke Bandung, abis itu sejak lulus di Jakarta sampe skrng 😁

      Hapus
    3. Nampaknya, besok besok aku panggil Uni Thessa saja yaaa, ni

      Hapus
  19. Itulah serunya Indonesia Mas.
    Bahasanya ada banyak.
    Saya dulu juga gitu saat sekolah di perkampungan Jawa.
    Jadi pagi sampe siang sering pake bahasa Jawa.
    Tapi sore dan malam, saat di rumah pake bahasa Melayu lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah mantap nih. Mas Rudi jadinya poligot yaaak :D

      Hapus
  20. Sama kayak pengalamanku Do. Di Tangerang juga banyak yang pakai bahasa Sunda, tapi beda dengan yang di Bandung atau Cimahi (2 tempat yang pernah kukunjungi). Katanya sih nama bahasanya Sunda Tangerang, hahaha ada2 aja. Jatuhnya jadi ngoko (kasar) kalau di bahasa Jawa ya :P tapi sepakat sama kamu Do, itulah indahnya Indonesia. Soal bahasa aja kita banyak bedanya lho, semestinya perbedaan ini memperkaya kita ya, bukan malah menjadi ajang beda-bedaan, eh kok jadi curhat :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoo, teryata gitu yaa mbak. Sunda Tangerang yaaaak

      Hapus
  21. Kalau kata2 Ajay atau Anjrit itu masuk katagori bahasa gaul yang sehari2 digunakan dilingkungan Jabodetabek Do..
    Jadi nggak meski orang betawi saja.😊

    Nah kalau dijakarta bahasa sopan itu yaa aku, Saya, Kamu, itu termasuk umum juga... Jadi kalau ente ke Jakarta nggak meski ngomong Elu, Gue, Anjay, Anjrit...Terkecuali sama teman yang memang sudah akrab sama kita.😊😊


    Iyee..Kenape, Kemane, Betawi katanya, Meski Faktanya nggak semua orang betawi pakai kata itu.😊😊

    Kalau Palembang Kemano, Kenapo, Iyo, benar nggak DO..🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Dindo, Kando, Pergi Sajo, Kaulah..🤣🤣🤣🤣

    Palembang itu sepintas hampir mirip sama bahasa Riau nggak DO..🙄🙄🙄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener... Mirip sama Melayu Riau. Cuma diganti jadi o saja. Tapi tetap tidak seluruhnya hehehe..

      Sedikit koreksi yg kurang tepat.
      Ini; Kenapo dan pergi sajo
      Yang benar; Ngapo dan pegi bae

      Hehehehee....

      Hapus
  22. Saya adalah penggemar bahasa. Paling suka denger orang ngomong langsung pake bahasa aslinya, tapu biasanya saya senyumin aja, karena saya ngga ngerti, wkwk.

    Soal aku-kamu, beberapa tahun yg lalu saya di jakarta, juga dibilangin kaya gitu sama teman orang sana. Mereka malah jijay sendiri kalo ngomong gitu sembarangan. Makanya elo gue lebih mudah ditemui. Biasanya kalo mau ambil jalan tengah, pake saya. Tapi tergantung sikon juga sih. Lama2 jadi ikut gue lo.

    BalasHapus
  23. pengen ketemu si mbah nya
    dulu waktu aku kuliah, banyak banget temen temen dari seluruh indonesia, pasti ya itu hahaha
    pas ketemu temen jakarta, dia ngomong sama yang tua lu gue lu gue, awalnya aku pikir kok kasar banget ya. ealahh ternyata pas tau sendiri dan dari cerita temen juga, emang kayak gitu
    pas ngetrip sama temen temen yang dari jakarta, bicara mereka ke orang yang tua juga biasa aja. Beda banget sama daerah jawa timuran
    kalau masih berada di daerah jawa tengah atau jawa timur, aku masih paham artiannya, meskipun kadang penyebutan untuk beberapa hal tertentu berbeda tapi artinya sama
    yang agak medhok biasanya kalau ke jawa tengah

    dan pas awal awal ketemu sama orang yang sama sama dari jawa timur, tapi dialeknya beda, rasanya aneh gitu hahaha
    ada yang kalau ngomong, pas kalimat terakhirnya kayak diseret-seret gitu

    BalasHapus
  24. wah wah aku paham tuh maksud sunda yang kasar begitu karena kota kelahiranku menganut bahasa sunda yang kasar wkwkw

    Perbedaan bahasa memang kadang bikin lucuu! Karena aku terbiasa nyebut bala-bala untuk gorengan sayur kol dibalut tepung, jadi pas jajan dan pesen bala-bala orang Jakarta bingung maksudku apa. Soalnya di Jakarta sini nyebutnya BAKWAN!!! Hahahaha Padahal kalo di daerahku bakwan itu untuk bakwan kentang gitu misalnyaa ato bakwan jagung. Jadi lucu yaak hehehe

    btw aku kalo di kantong pake aku kamu kok ngomongnya Do. Ga bikin baper anak orang hahaha Kadang juga gabung dengan gw elo hehehe

    Terus Dodo ga sopaan itu pasti dipikirannya si mbah! hihihi jadi lucu bacanyaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh ada typo!! maksudnya kantor ya bukan kantong wkwk kalo di kantong mah aku ga muattt :p

      Hapus