Culture Shock; Makanan

 
Hari ini adalah tanggal satu di bulan Ramadhan, dalam penanggalan Hijriyah. Puasa pertama. Jalan di dekat rumah kontrakan yang sejak dua pekan lalu kami tinggal di sana, sudah ramai oleh masyarakat yang berlalu lalang. Ada yang berjualan takjil, ada pula yang hendak membeli. Mencari makanan untuk buka puasa di waktu Maghrib nanti.

Selaiknya Ramadhan, apalagi puasa di hari pertama. Sudah semestinya kita berkumpul bersama keluarga, bersama ayah ibu dan para saudara. Itu yang biasanya aku lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Namun, tidak untuk tahun ini. Ramadhan di hari pertama, malah buka puasa bersama teman-teman yang aku lakukan.

Tahun ini, Ramadhan di perantauan.
Itulah sebabnya, tidak bisa berbuka puasa dengan keluarga. Maka, buka puasa bersama teman adalah yang menjadi pilihan. Teman-teman satu batch yang menjadi “keluarga” untuk saat ini. Dan siapa tahu ke depan, beneran menjadi keluarga! #Ehh

Puk..Puk..Puk..
Udah, cukup cerita melow-nya. Sampai sini sahaja. Post kali ini tidak akan membahas hal yang mengharukan dan membuat kamu ikut menangis tersedu-sedu mengingat keluarga, yang banyak di antara kita, sudah tidak tinggal bersama lagi.
Hari ini aku mau cerita tentang makanan. Tentang kekagetanku mengenai rasa makanan di kota eh, kabupaten tempatku tinggal saat ini, yang ternyata berbeda dengan tempat kota asalku.

Muncul kekagetan dan perdebatan-perdebatan kecil yang tidak penting, khususnya ketika buka puasa bersama yang aku ceritakan di paragraf awal.
Jadi, apa saja makanan yang membuat aku kaget dan shock?
Mari kita coba!

Kerupuk
“Kerupuk di sini rasanya aneh. Kok bisa-bisanya, rasanya manis begini.” Aku berseloroh kepada teman ketika kami sedang menikmati hidangan di buka puasa hari pertama.

Ndak, mas Dodo. Kerupuk kan memang gini rasanya,” seorang teman yang berasal dari Jawa Tengah mengatakan demikian.

Dua orang teman yang lain, yang berasal dari Jawa Timur, kemudian mencicipi kerupuk yang telah kami beli, “Ini nggak manis kok. Kerupuk memang begini. Tidak ada yang aneh dengan rasanya.”

Aku tetap ngotot kalu kerupuk yang aku makan rasanya manis. Teman-teman yang lain jadi ikutan mencoba mencomot kerupuk. Dan ternyata, ada yang sepakat denganku, “Iya, bener. Kerupuknya manis seperti kata Mas Dodo.”

Jadi, gimana kelanjutannya?
Perdebatan kami terhenti karena skor imbang. 5 vs 5. Lima mengatakan manis, 5 mengatakan tidak. Teman yang sepakat denganku, yang mengatakan kerupuk tersebut manis, adalah orang yang berasal dari Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau. Sedangkan teman-teman yang berasal dari Pulau Jawa, mengatakan kerupuknya tidak manis.

Sampai sekarang aku masih heran, kok mereka tidak dapat mendeteksi rasa manis pada kerupuk itu, yang menurutku, rasa manis itu menjadi sangat mengganggu.
Oh yaa, jawabannya simpel sebenarnya. Sebab orang-orang di Jawa, sering makan makanan dengan rasa yang cukup manis. Sedangkan makanan di Sumatera jarang yang manis.


Buka Puasa Bersama dengan Makanan yang Kontroversial;
Kerupuk Manis!

Nasi Padang
Baru kemarin, aku membeli Nasi Padang untuk kepentingan insta story makan malam. Terakhir aku makan Nasi Padang sebelumnya, ketika aku baru saja sampai ke sini. Jujur, rasanya sangat-sangat mengecewakan. Kuah santan pada sayur nangkanya benar-benar hambar. Rasanya sangat aneh, seperti sayur nangka yang tidak layak konsumsi. Rasa makanannya tidak seperti sayur nangka yang sehari-hari ibuku masak di rumah.
Well, aku kapok membeli Nasi Padang di sini.

Kembali ke cerita Nasi Padang yang baru saja aku beli kemarin.
Dua hari yang lalu, aku melihat temanku membeli Nasi Padang. Katanya, Warung Nasi Padang di Jalan X itu enak dan harganya cukup wortid, dengan rasa yang lebih enak dari warung sebelumnya. Maka aku memutuskan untuk membeli juga.
Ketika dicoba, lagi-lagi aku menjadi kecewa. Kenapa rasanya seperti ini. Kuah sayur nangkanya kurang nendang, cenderung hambar. Nangkanya juga lebih keras daripada biasanya.

Lha, mas Dodo gimana. Nasi Padang kan memang begini rasanya, tho? Nangkanya juga tidak keras, memang macam ini, laah.” Seorang teman menjelaskan kepadaku, dengan menirukan dialek bicaraku (yang sebenarnya dia tiru lebih mirip ke Melayu, bukan Palembang).
Bahwa di seluruh Pulau Jawa, rata-rata rasanya memang seperti ini. Kecuali kalau Nasi Padang yang mahal. Mungkin rasanya akan jauh lebih otentik. Dia melajutkan penjelasan.

Aku kembali menyanggah. Di kotaku dulu, Nasi Padang baik yang mahal maupun yang murah, rasanya relatif sama. Sepertinya aku akan kembali kapok makan Nasi Padang di sini.

Oh, yaa. Gini-gini, aku juga berdarah Minang, jadi mungkin punya standar yang tinggi untuk rasa Nasi Padang, hehe..

Nasi Uduk
Ketika di Jakarta, aku sangat terkejut dengan harganya. “Tiga belas rebu,” kata si ibu penjual dengan logat Betawi yang khas. Mahal sekali.

Padahal, di dekat rumahku, satu porsi Nasi Uduk (kalau di Palembang disebut Nasi Gemuk) hanya lima ribu rupiah, bahkan bisa tiga ribu rupiah jika tidak pakai telur.

Sambel Kacang
Salah satu pelengkap makanan yang baru kali ini aku jumpai. Secara tampilan mirip dengan kuah kacang pada sate atau siomay. Namun lebih encer, bahkan aku tidak merasakan rasa kacangnya. Aku juga tidak merasakan dimana rasa pedasnya, padahal katanya ini sambel kacang. Hehe.

Aku pertama kali mengenal Sambel Kacang dari Nasi Uduk seharga tiga belas ribu di atas. Ketika hendak selesai membungkus makananku, si ibu bertanya, “Mau pake sambel kacang atau sambel merah?”
Dan ternyata, lagi-lagi, tidak sesuai ekspetasi. Hihihii..
Kalo tau gitu, aku mendin pilih sambel merah.

Orek Tempe
Makanan ini sangat mudah dijumpai di Warteg. Bisa dikatakan, di sini aku pertama kali makan orek tempe. Walaupun sebenarnya ketika di Palembang ada makanan serupa. Namun namanya disebut Sambel Tempe. Isinya, potongan tempe kecil-kecil yang dikasih sambel. Namanya aja sambel tempe (?)
Selain tempe, isinya kadang ada kacang tanah dan juga teri.

Terkadang ada juga yang membuat makanan ini dengan hanya kacang tanah saja yang dikasih sambel. Namanya sambel kacang. Kacang yang disambelin (?)

Itulah sebab, ketika aku ditawari sambel kacang oleh si ibu penjual nasi uduk, aku punya ekspetasi yang berbeda. Hahaa.

Terakhir, mohon maaf jika gambar makanan-makannya tidak disertakan karena aku lagi malas, dan pembaca pada lagi puasa, kan.
Nanti kamu tergiur... πŸ˜πŸ˜‹

Share:

55 komentar

  1. Salah fokus ke foto bersamanya, yang cewek kanan kenapa diedit tuh om fotonya?

    BalasHapus
  2. kalau nasi padang, mau makan dimana aja, entah dibungkus atau makan ditempat, enyaknyaaaaa
    apalagi kalau pas jam makan siang (sebelum puasa ya), meskipun dari segi harga emang agak mahal dibanding makan nasi campur warteg, tetep aja kuahnya itu lho yang bikin enak.
    aku sampe heran

    orek tempe ini aku sukakk, apalagi kalau cuman dicemilin hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi rasanya tetep aja, nasi padang du Jawa belum masuk, blm cocok dgn lidahku mbak hehehe

      Hapus
  3. Enak do kerupuk manis, soalnya saya kan suka yang manis-manis juga. 😁

    Yang tabah disana ya Do *pukpukpuk

    Pernah coba masak sendiri Do? Biar makannya semangat.

    Tapi bagus juga Do kalo rasa makanannya gak sesuai selera. Jadi makannya gak terlalu doyan, kalo udah gitu kan lumayan, kesempatan buat diet, kan bisa irit juga jadinya hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah jadinyo anrh menurutku mbak, kerupuk yg manis ini. Hahaha

      Kalo masak dewek, sdh. Cuma masak nasi pake Magic com alias rais kuker πŸ˜€
      Kalo masak yg laen, belum. Sebab kami belom punyo kompor, panci, dll. Agek lah besok besok insyaa allah πŸ˜€

      Hapus
  4. Oalahhh kerupuk itu yaa, ak juga ngerasa kalau kerupuk itu ada rasa manisnya dikit sih.. Kadang aku campurkan denngan sambal agar rasa manisnya berubah jadi pedas, gatau kenapa di jawa jawa sambel kok dibikin manis ya, padahal pedas itu lebih membara..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah yaaa, akhirnya ada jg yang satu tim denganku mengatakan kalo kerupuk di Jawa itu manis! πŸ˜€

      Hapus
  5. Luar biasa memang kuliner Indonesia, sangat kaya ya mas dodo.Beda daerah, beda rasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa... Indonesia negara yang kaya akan budaya πŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
  6. Sehabis merantau lidah memang kudu menyesuaikan dengan makanan setempat. Saya juga waktu awal suka bingung dengan rasa-rasa yang tidak biasa. Tapi lama-lama demen juga makannya.

    BalasHapus
  7. Lidahnya masih beradaptasi ya mas, aku dulu pas pertama merantau di jakarta malah merasa kalau banyak bgt makanan di jakarta ini hambar, seperti nasi goreng, bakso, apalagi mie ayam, nasi uduk pun rasanya pas2an.

    Untuk cita rasa, lidahku tetap cocok dengan citarasa makanan purwokerto, tapi karna udah lama di jakarta jadi udah terbiasa sama makanan2 kaya begitu hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju... Di sini rasanya banyak yang serasa hambar

      Hapus
  8. Bahahaha..
    Kerupuk palembang mah emnk nggk ada duanya yah..
    Aku sndiri kalau kerupuk seringnya nyari yg ada rasa ikannya.. karena enakkk.. haha πŸ˜…

    Btw, soal nasi uduk.. aku baru dnger sih nasi uduk nawarin 2 model sambel. WkwkπŸ˜‚ soalnya biasanya cuma satu jenis..

    Dan soal harga. Yapzz mahal disana tuh.. bahkan model nasi uduk kucingan alias cuma nasi doang aja udh kena 5000 satu bungkus,, di tempatmu 5000 udh lengkap lauk murah bnget ya.. Hhaah πŸ˜…πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, waktu aky di tempat temen di Jakarta Timur, si ibu penjual menawarkan dua opsi sambel loh mas bayu haha

      Hapus
  9. itu kerupuknya modelnya sama dengan yang biasa aku makan kok do. kayaknya nggak ada manis manisnya tuh. wkwk

    soal harga mh emang jauh sih. tapi dulu kukira ketika tinggal di luar jawa, harganya bakal beneran mahal dua kali lipat, pas kami sampai di sana dan belum ada kompor kamipun pesan makanan online. harganya so so sih 50 rb buat bertiga. Jadi ya tergantung pilihan tempat makan juga kayaknya yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah berarti mba Ghina masuk tim yg tidak merasakan manis pada kerupuk yaa πŸ˜€

      Hapus
  10. Makanan yang paling ngga perna salah adala nasi padang.

    wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapo kalo di sini, menurutku rasanya salah. Hehehehee

      Hapus
  11. Sebenarnya pengin protes tapi gimaana ya ..., sejurus kemudian aku juga memaklumi banyak makanan khas daerah tertentu ketika dijual di lain daerah,eh rasanya jadi berubah, hahaha ...
    Alasan penjualnya disesuaikan sama selera lidah warga setempat, kalau dijual persis rasanya, katanya ngga laku.
    Jadinya ya aneh sih memang rasanya seperti yang Dodo rasain πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoo yaaa masuk akal juga. Agak berbeda dgn daerah asal sebab ingin menyesuaikan lidah masyarakat setempat yaa kang πŸ˜€

      Hapus
  12. Menurutku kerupuk yang itu juga ada manis-manisnya Do 🀣 tapi aku udah terbiasa jadi enak-enak aja pas dimakan terutama pakai sambal 🀣
    Kalau menu masakan padang, katanya sih yang mahal-mahal memang lebih nampol tapi aku belum buktikan sendiri. Mungkin Dodo mau buktiin duluan? Wkwk

    Soal nasi uduk, masih ada kok nasi uduk yang 5rebuan gitu Do. Harga makanan tergantung lokasi kalau di Jabodetabek wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk kapan kapan deh kayaknya emang kudu coba makan dI Restoran Padang yang mahal, biar rasanya otentik πŸ˜€

      Hapus
  13. Kalo di Jakarta, nasi padang yang enak itu g*ruda, s*rya, Pagi s*re, tapi harganyaaa.. Hehhehe.. Aku juga terganggu kalo ada makanan manis jadi pendamping untuk makan nasi.. Dulu pas pertama kali ke Yogya, aku diajak makan gudeg.. Katanya gudeg paling enak dan udah terkenal banget, tapi aku gak bisa makan karena rasanya manis banget.. Begitu pun nasi padang, semua manis.. Ujung2nya mampir ke tukang nasgor, kalo pun berhasil masuk perut karena udah kelaparan.. wkwkw.. besoknya malah ke malioboro dan beli hokben deh.. Bukan karena gak enak ya, tapi lidahku memang gak terbiasa makan makanan manis, dan mmakan cemilan manis2 aja gak terlalu suka, apalagi kalau harus disanding dengan nasi.

    Kalo Nasduk di tempat ayahku masih 5 ribuan, udah ada orek tempe sm bihun plus sambal n kerupuk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kak naia...mbul juga suka padang garudaaaa..tapi emang itu termahal diantara yang lain...lainnya aku taunya sederhana hihiiii..tapi kalau tempatku yang enak itu oadang 45..tiada dua rasa masakannyooo

      Hapus
    2. Restoran yang disebut mbak Naia itu mah mahal mahal semua πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Tapi bolehlah, sesekali kalo lagi beneran kangen dengan Masakan Padang. Heeehe...

      Hapus
  14. wow ada batch...sek..bentar..dirimu kutebak kerja di bank kah...jangan jangan bank syariaa hihihi

    eh aku kemaren juga uda bahas sambel kacang encer tapi aku lebih ke bahasan risol yang dipakein sambal kacang encer...soalnya tempat asalku ya gorengan pake cabe doang..ga pake sambel kacang hahaha

    kuaminkan deh..semoga salah satunya bisa menjadi bagian dari keluarga beneran..amiiiinnn...#lha hahhaahahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eeh, bukan kerja di bank kok mbak. Hehehehe 😊

      Hapus
  15. makanan yang paling kusuka, nasi padang, murah dan enak rasanya, tapi eits jangan terlalu di bayangkan, kan bulan puasa, he-he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi, lagi-lagi. Masakan Padang di Pulau Jawa, tidak sesuai ekspetasi hahahaa

      Hapus
  16. Nasi Padang memang selalu menggugah selera. Rasanya ga pernah bosan karena fleksibel bisa dinikmati kapa aja hehehe. Di Jagakarsa masih banyak naspad paket 10K loh wkwkwkwk isinya lengkap cuma potongan daging rendang atau ayamnya ya kecil gituh hahah.. Buat pembeli yang uangnya pas2an atau berbagi dengan sesama, cocok ini :D

    BalasHapus
  17. Gak semua orang Jawa masakannya cenderung manis, Doooo 🀣. Ngomong-ngomong keluargaku kalau masak cenderung asin. Bahkan ada beberapa masakan yang dimasak gak menggunakan gula sama sekali. Dan ini resep turun temurun dari mbah-mbahku, lho. Jadi jangan dikira masak tanpa gula ini eksperimenku sendiri. Hehehe. 🀣🀣🀣

    Tapi emang bener ada daerah di Jawa yang masakannya cenderung manis. Kalau gak salah Jogja deh. Aku pernah coba gudeg, dan kayaknya rasanya kurang pas di lidahku. Soalnya dia rasanya manis, sedangkan lidahku kebiasaan makan makanan asin. 🀭

    Kalau nasi Padang, entah kenapa aku juga kurang sreg dengan masakan Padang yang dijual di rumah makan dekat daerahku tinggal, do. Sempat penasaran juga gimana rasa masakan Padang yang beneran asli dari Padang. Sampai akhirnya suami ajak aku makan di rumah makan Padang milik bapaknya temennya. Tempatnya daerah Sidoarjo sana, deket Juanda. Dan rasanya mantep banget. Uenak 😍. Terus suamiku bilang, ini yang masak (bapaknya temen suamiku) orang asli Padang. Jadi rasanya otentik. πŸ₯°

    BalasHapus
  18. wahh seru jugaa yahh bukber samaa teman-teman ngumpul bareng makan pakai beralaskan daun..hhehhe

    apalagi samaa ituu tuhh nasi uduk duhh nikmatnyaa mas ditambah lagi dengan ayam goyeng + sambal nyaa wihhh mantull

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang nya kami ga pake daun. Melainkan kertas nasi πŸ˜€

      Hapus
  19. Selamat beradaptasi dengan makanan-makanan tidak familiar tapi rasanya enak Mas πŸ˜†

    BalasHapus
  20. Do, dirimu terbiasa dengan KEMPELANG bukan kerupuk. Jelas rasa dan kualitasnya berbeze.
    lama-lama juga akan beradaptasi Do, awal2 saya di Semarang semua --ulangi-- semua makananan terasa manis termasuk yang di rumah makan Padang

    BalasHapus
  21. Wah mas Do seru banget bacanya hahaha. Berhubung saya ada turunan keduanya yaitu Jawa dan Sumatera, tapi saya pun masih gak cocok makan makanan yang rasanya cenderung ada rasa manisnya. Mungkin kalo orang Sunda lebih bisa menyeimbangkan dengan masakan sumatera, soalnya ibu saya malah suka banget sama makanan Padang dan nurun ke anak-anaknya, gak ada yang suka tuh kalo rasa masakan kerasa manisπŸ˜„ tapi tergantung daerah Jawanya dimana ya, kalo masakan orang Jawa timur kayaknya ada pedes2nya juga.

    Terus soal nasi uduk, wah enak banget bisa dapet seharga 3rb, ditempat saya paling murah tuh 7rb, 5rb kalo polos aja gak pake apa-apa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa, tempatku masih agak muraah harganya mbak hehee

      Hapus
  22. culture shock dialami oleh semua orang, jika harus pindah ke daerah baru....
    ada yang betah, banyak juga yang kemudian balik ke tempat asal....

    nice story, thank you for sharing

    BalasHapus
  23. Aku belum pernah si merasakan ini karena merantau masih dalam provinsi yang sama. Pernahnya waktu pergi umroh dan mengalami culture shock waktu di Madinah. Nggak ada makanan yang sesuai selera berujung cuma minum susu aja di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAmpaknya, kalau makanan arab rasanya dia sangat kuat akan rempah yaa mbk

      Hapus
  24. Ahahaha... Emang gitu sih Mas, tiap daerah emang beda rasa kulinernya.
    Kalo kita di Sumatera emang rasa makanan itu biasanya lebih kuat, lebih nendang, asin dan gurih.
    Sedangkan di Pulau Jawa rasanya lebih lembut, lebih manis.
    Bahkan nggak usah beda pulau Mas, saya aja yang sekarang beda provinsi doang tapi masih satu pulau tetap ngerasain kalo kue yang di sini rasanya beda ama kue yang ada di kampung, padahal masih satu pulau.

    BalasHapus
  25. Luh makan gula kali satu truck DO....Jadi pas makan kerupuk masih ada manis2nya..🀣🀣🀣🀣


    Dengar DO, Biasanya kalau orang sumatra yang baru merantau atau baru berada disatu Daerah hal yang wajar jika mereka Dalit soal makanan...Bahkan mungkin makanan khas daerahnya sendiri pasti dibilang nggak enak, Kurang Nendanglah....Yang ada paling ente yang ditendang DO...🀣🀣🀣🀣🀣


    Lain tangan lain Raso DO...Dan Lain tempat meski sama2 masakan Padang tetap lain Raso jugo DO...🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣

    BalasHapus
  26. kalo nasi padang yang 10ribuan emang encer kali kuahnya, kek minum air putih berwarna saja (loh?! air putih kok berwarna, makin ekstrim makin seru, hahaha). Tapi kalo yang mahalan sikit, banyak kok yang enak, Do. Aku yang memiliki darah Sumatera, bisa lah bilang begini :D
    Dann, krupuk itu memang manis rasanya, makanya ku tak suke. Lebih nyaman makan emping atau kripik sekalian, biar asin dan micin :P

    BalasHapus
  27. Memang kalo nasi Padang yang 10 ribu atau 15 ribu disini rasanya kurang nendang, aku juga yang bukan keturunan Minang tahu kok masakan yang enak.

    Pernah juga ke rumah makan Padang yang kelihatannya bagus, rasanya enak, beda jauh dengan yang 10 ribu, tapi begitu bayar shok karena sepiring 25ribu, berdua dengan teman 50 ribu.🀣

    BalasHapus
  28. Halloo Kak Dodo! Semoga lancar ya puasanya, hehehe.

    Betul loh Kak Dodo, aku orang Jawa asli juga sadar betul kalau masakan Jawa memang manis-manis. Bahkan waktu tinggal di kota yang dulu ada beberapa yang sengaja di tambah gula, padahal kalau di kota yang ku tinggali sekarang sangat jarang dikasih gula. Mungkin bakal di cap aneh kalau tau masaknya di tambah gula. Hahahah 🀣

    Oh iya, itu benar tempe orek banyak ditemukan di Warteg. Tapi aku cukup suka sama makanan satu ini, apalagi kalau yang masak si ibu.

    Semoga Kak Dodo lidahnya bisa beradaptasi ya dengan masakan di kota yang ditinggali Kakak sekarang. Atau, sering-sering masak sendiri aja kalau begitu Kak, supaya bisa dapet the real taste hahahah 🀣

    Ps : kalau tidak ribet juga masaknya

    BalasHapus
  29. boleh sahaja post gambar ketika pembaca membaca pada waktu malam...

    BalasHapus
  30. Iyaa. namanya cultural shock mas Dofo terkaget-kaget dengan rasa menu makanan di perantauan.
    Merantau kerja nya di pulau Jawa ya mas Dodo?
    Memang benar orang Jawa seleran makanannya manus-manis.. tapi masa sich kerupuk rasanya manus? Paling nggak rasanya seumbang antara manis dan asin. Kalau asin kebanyakan ntar bisa tensi dong? Hehehe..
    Iya benar nasi padang di Jawa rasanya nggak mirip dengan nasi padang asli. Mungkin karwna sudah disesuaikan dengan rasa lidah Jawa.
    Kalau begitu nyari menunya menu Jawa aja mas Dodo biar pas kayak gudeg..hehe. btw met mendapat pekerjaan baru di tempat yang baru semoga betah di perantauan. Selamat menunaikan ibadah puasa semoga lanvcar sampai akhir.

    BalasHapus
  31. nasi uduk 13K? apa di dalamnya ada emas ke, mas? hahahaha

    BalasHapus