Tewasnya Gadis Depok


Kota Depok.
Hayoo, siapa yang tidak kenal dengan kota ini. Kota yang belum lama berdiri, hasil pemekaran dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kota ini berbatasan langsung dengan Provinsi DKI Jakarta, ibukota Indonesia. Kota Depok dalam sejarah demokrasinya, sejak pertama kali diadakan Pilkada, selalu dimenangkan oleh "Partai Dakwah". Pun tahun ini, masih dimenangkan oleh partai yang sama. Ini sudah kali ke-empat rezim tersebut langgeng. Artinya, mereka otewe dua puluh tahun menjadi penguasa di Depok.

Saat ini, yang menjadi Walikota adalah Pak Kyai, tamatan pondok pesantren di Jawa Timur, kemudian S-1 hingga S-3 belio dapat dari Universitas Islam yang ada di Kerajaan Saudi, negerinya sang nabi. Kurang Islami apa lagi. So, partai tersebut benar-benar berkuasa dan (mungkin) ingin menyebarkan ideologinya.

Well, walopun Partai Dakwah berkuasa di Depok. Tidak kemudian seluruh lini terkena dakwah merekaBahkan, paham open minded liberalisme cukup subur di sini, hidup beriringan dengan paham Islami yang dibawa penguasa kota.

Siap-siap, cerita akan dimulai. Tentang kedua paham yang hidup beriringan. Setelah sebelumnya aku bercerita tentang Perempuan Open-Minded yang ada di Depok, kini aku mau cerita tentang temanku yang berasal dari Depok. Aku sudah mengenalnya sejak di bangku kuliah, sebab kami berada di jurusan yang sama. Sebut saja namanya Lia.

Bagaimana bentuk orangnya? Wajahnya berkulit sawo matang, namun tetap manis dipandang. Pandangan matanya selalu tertunduk, meneduhkan. Senyumnya manis dan bibirnya tipis. Lia menggunakan hijab yang cukup syar'i; lebar dan besar. Hijabnya terulur hingga menutup hampir seluruh tubuhnya. Pakaiannya benar-benar tertutup.

Ketika menjadi mahasiswi, Lia adalah ukhtivis; Ukhti-ukhti yang juga seorang aktivis. Aktif di berbagai organisasi mahasiswa. Menjadi sekretaris umum Rohis kampus, tahun selanjutnya menjadi Bendahara Umum di BEM. Juga aktif dalam berbagai forum pergerakan, kajian dan pemikiran. Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS), misalnya. Lia dan teman-temannya dengan lantang menolak RUU tersebut, dengan kajian dan data lengkap yang mereka beberkan. Aktivis dari gerakan sebelah dibuat tak berdaya olehnya.

Lia adalah sosok aktivis perempuan yang menjadi teladan. Menjadi role model bagi adik-adik tingkat di kampusnya. Dan sudah barang tentu, para anak Rohis yang berjanggut tipis banyak yang jatuh hati padanya. Tak terkecuali aku, wkowkoqk ~

Waktu terus berjalan, satu persatu dari kami mulai wisuda. Ada yang merantau, ada pula yang kembali ke kampung halaman. Lost contact tak dapat terelakkan. So, bagaimana dengan diriku?
Aku saat ini telah bekerja di perusahaan FMCG yang berkantor di bilangan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Namun, aku tinggal di Depok, daerah Margonda. Banyak yang seperti itu, loh. Tinggal di Depok, tapi kerja di Jakarta.

Kini, aku punya kebiasaan baru. Hampir setiap malam selepas Maghrib, selalu mampir di salah satu cafe yang ada di Jalan Margonda Raya. Kalo kamu tinggal di Depok, pasti tau cafe apa yang aku maksud. Aku yang sebelumnya tidak suka kopi, kini menjadi ketagihan minum kopi. Melepas penat setelah bekerja.
Aku memilih tempat duduk favoritku, di sudut ruangan. Aku duduk dengan tenang, sendirian.

Kebiasaan ini terus berlanjut, hingga dua pekan berturut-turut. Sebelum ada sesuatu yang membuatku terkejut. Sebab, seorang perempuan dengan rok setinggi lutut, dan aroma parfumnya membuat aku bersungut-sungut.
"Doo, boleh aku duduk di sini?"

Oh Tuhan, darimana gadis ini mengetahui namaku. Bahkan, aku tidak mengenalnya (atau mungkin, tidak mengingatnya).
"Oh yaa, silahkan!" aku menjawab dengan memberikan senyum terbaik.

"Aku sudah beberapa hari ini memperhatikan kamu di cafe ini. Nampaknya, kamu tidak sadar akan adanya aku di sini. Sama sepertimu, bahkan setiap malam aku selalu ke cafe ini. Tidakkah kau sadar akan hal ini?" perempuan itu merocos saja, sekenanya.

Aku kemudian meneliti wajahnya dengan saksama. Pun juga dengan bentuk tubuhnya. Aku benar-benar tidak punya ide. Siapa orang yang ada di depanku. Seseorang yang rambutnya sebahu, berpakaian semi terbuka, you can see, lekuk tubuh cukup terlihat sebab pakainnya, dan memakai rok selutut. Setelah lima detik, aku baru sadar. Wajahnya tidak asing, namun aku tetap tidak mengenalnya.

"Doo, kenapa bengong? Kamu pangling yaa dengan aku. Aku tahu, kamu pasti bingung kan siapa aku. Coba tebak, siapa hayoo?" perempuan itu mulai sedikit menggodaku, sambil memainkan rambutnya yang dipelintir-pelintir.

"Jujur, aku lupa. Aku tidak mengingatmu. Tapi, wajahmu benar-benar tidak asing. Maafkan aku."

"Doo, ini aku. Lia!"

"HAAAH, LIA! BENERAN?" aku benar-benar terkejut. Drastis sekali perubahannya. Dari sebelumnya seorang ukhti berhijab syar'i dan gamis yang berpakaian sangat tertutup, kini pakainnya cukup terbuka, dengan rok hanya sampai lutut.

"Udah, ga usah sok terkejut. Biasa aja. Eh, tapi kalo pakaianku udah berubah gini, kita tetap masih bisa berteman kan, Doo?" pertanyaannya benar-benar membuat aku tersentak.

"Tentu saja, sejak kapan pertemanan memandang pakaian."

"Bagus, deh. Kemarin juga ada teman kita yang aku ajak ketemuan. Dia masih pake hijab syar'i. Ketika tau aku gini, eh aku malah dijauhin. Kontak WhatsApp pun di-block. Gila bener, coba, percuma aja pake hijab syar'i, tapi akhlaknya tidak syar'i." Lia tampak emosi.

"Huss.. Udah, ga boleh gitu. Biarin aja!"

Begitulah pertemuan pertamaku dengan Lia yang "baru". Lia sudah berubah drastis, namun aku juga tidak punya hak untuk menghakimi, tidak juga ingin bertanya kenapa hal itu terjadi. Lha, aku juga sama saja sepertinya. Sama-sama sedang otewe menuju jalan yang (dianggap) tidak baik.

Kembali ke cafe.
Setelah pertemuan itu, kami menjadi intens berkomunikasi dan bertemu di sana. Aneh ya kalo difikir. Ketika kuliah, di organisasi kami tidaklah lazim laki-laki dan perempuan intens berkomunikasi. Lha, hari ini, kami berdua duduk berhadap-hadapan di sini.
Apa saja, selalu muncul bahan obrolan yang layak untuk diperbincangkan. Kata orang, kami seperti orang yang berpacaran. Padahal bukan.

Kejutan lain muncul, saat itu di malam minggu. Lia tiba-tiba memohon maaf kepadaku, "Maaf nih Doo. Aku udah ga tahan. Toh kamu sudah tahu aku luar dalam gimana, jadi aku tidak canggung lagi yaak!" Ternyata dia mengeluarkan rokoknya, dia menghisapnya dalam-dalam. Aduhai.. Belajar merokok darimana dia. Aku benar-benar terkejut.

"Oke, tak masalah. Santuy!" aku kemudian ikut mengambil rokok miliknya yang tergeletak di atas meja dan menyalakannya, "Aku minta sebatang yaak!"
Kali ini, Lia yang terkejut.

"By the way, kamu masih ngaji Doo?" obrolan dua orang anak manusia yang sedang merokok dimulai.

"Menurutmu? Jawabannya sama seperti dirimu, lah. Aku tidak ikut pengajian lagi hehehe."

"Heeey, enak saja. Walaupun aku sudah lepas jilbab, aku masih rutin ikut pengajian. Huu!" Lia meledekku, aku ternyata terlalu cepat menilai seseorang hanya dari penampilannya saja.

Di hari yang lain, masih di cafe yang sama. Sebab hubungan kami semakin intens, terjadilah percakapan seperti ini.
"Doo, apa kita pacaran aja yaa. Biar ga jadi omongan orang. Kita resmikan hubungan kita?" suatu saat Lia berkata demikian, di sudut cafe remang-remang.

"Haah, pacaran untuk apa?" aku menjawab pura-pura polos.

"Eh, maafkan aku Doo. Aku tahu, kalo di organisasi kita emang di-doktrin kalo pacaran itu ga boleh. Nampaknya, kamu masih memegang teguh doktrin itu." Lia berbicara dengan hati-hati.

"HAHAHA!" Aku tertawa terbahak-bahak, seolah meledek Lia. Lia balas mencubit pahaku, aku diam saja, untuk menikmati cubitannya dan grepe-grepe darinya.

"Pacaran, tidak ada gunanya. Toh apa yang orang lakukan ketika pacaran, sudah kita lakukan juga. Duduk makan malam berdua, pergi jalan-jalan berdua, nonton bioskop berdua. Kalo hanya sekedar deklarasi ayo kita pacaran. Itu tidak berguna. Hubungan semacam itu hanyalah sekadar main-main saja. Kalo emang kamu mau seperti yang kamu bilang tadi, resmikan hubungan agar ga jadi omongan orang. Yaa, solusinya adalah..." aku menghentikan pembicaraanku sejenak agar lebih dramatis.

"Apa Doo?" sorot matanya tajam memerhatikan mulutku, seolah tidak mau tertinggal satu kata pun yang keluar.

"Kita menikah aja, gimana! Jujur, aku udah suka sama kamu sejak lima tahun lalu, sejak kita kuliah di kelas yang sama dan masuk di organisasi yang sama. Kau tahu, banyak teman di luar sana yang jatuh hati kepadamu. Karena kamu adalah seorang yang cerdas, aktif bersuara lantang dalam menyuarakan kebenaran, menjaga diri dari laki-laki juga berpakaian sopan, rapi dan tertutup. Namun semua itu sirna ketika kamu malah memutuskan untuk melepas hijabmu. Orang-orang banyak yang mundur. Tetapi aku tidak, aku masih sama sejak lima tahun yang lalu, yang tulus mencintaimu. Aduhai, aku bicara apa ini. Aku tidak menyangka aku akhirnya berani juga mengungkapkan rasa kepada sang ukhti idaman di kampus, mantan aktivis dakwah beberapa tahun lalu."

Mata Lia berkaca-kaca, dia tidak menyangka akan kalimat yang baru saja didengarnya. Satu detik kemudian, tubuhnya telah berada di depanku. Satu centimeter jaraknya. Lia langsung memelukku dan membisikkan ke telingaku, "Aku juga cinta kamu, Doo."

***

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku benar-benar merasa bahagia sebab telah mengungkapkan perasaan yang dipendam selama bertahun-tahun. Ditambah lagi, perasaan itu mendapat respon. Gayung bersambut. Maka, keesokkan hari, aku langsung menghubungi orang tua yang berada di Pulau Sumatera. Intinya, aku meminta izin kepada mereka untuk menikah. Sontak saja mereka terkejut karena sangat mendadak. Wkwkwk.

"Bagaimana orangnya, nak?" kata ibuku dari sambungan telepon.

Aku jelaskan secara detail, tidak ada yang ditutup-tutupi. "Orangnya baik, ramah, waktu kuliah dulu pake jilbab. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Pakaiannya juga, kalo aku ketemu agak sedikit terbuka. Selalu mengenakan rok di atas lutut, bu. Tapi itu tidak masalah, aku bisa bimbing dia kembali ke jalan yang benar, bu." kataku kepada ibu, menjawab pertanyaan beliau.

"Kamu serius, mau nikah sama orang yang seperti itu? Ibu tidak yakin kamu bakal kuat. Ibu pokoknya tidak setuju. Cari yang lain saja, yang normal saja. Masih banyak perempuan di luar sana yang menggunakan jilbab dengan baik." ternyata, ibuku tidak setuju atas pilihanku.

"Tenang, bu. Dia itu orangnya penurut, bisa diarahkan kok. Aku janji, akan bimbing dia perlahan-lahan agar kembali mengenakan jilbab." aku tetap membujuk beliau.

"Pokoknya kalau ibu bilang tidak, ya tidak. Logika sederhana saja. Kalo perintah Tuhannya saja dia tidak patuh, apalagi nanti perintah suaminya."

"Tapi, bu.."

"Tidak!"

"Atau begini saja, aku minta dia mengenakan jilbab dari sekarang. Kalau ternyata dia mau, ibu izinkan aku menikah sama dia. Aku rasa itu cukup adil, bu."

Usul dariku diterima oleh ibu. Aku telah mengajak Lia untuk makan malam di tempat yang berbeda, walaupun masih di Jalan Margonda Raya, Depok. Sebagai informasi, pembangunan di Depok terlalu fokus di Margonda, itulah sebab banyak tempat hiburan ada di kawasan ini. Hehehe.

Kami makan malam di cafe rooftop, cafe yang berada di lantai apartemen paling atas. Lantai 25. Suasananya cukup indah. Dapat melihat kemerlap malam Kota Depok. Walaupun hanya gedung-gedung tinggi saja yang dilihat.

"Aku sudah bicara sama ibuku." kataku mulai pembicaraan serius.

"Aku juga, papa dan mama sudah setuju. Mereka bilang kapan kamu dan orang tuamu datang ke rumah. Biar kita cepetan sah, hahaha!"

Mendengar jawaban Lia, aku menelan ludah, kemudian menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Ibuku setuju aku menikah denganmu, asalkan kamu mau memakai jilbab lagi. Itu saja syarat dari beliau. Tidak berat, kok." aku langsung to the point saja.

Lia menggeleng, "Tidak bisa, Doo. Aku belum mau mengenakan jilbab lagi. Saat ini aku belum siap, nanti kalau kita sudah menikah, biarlah waktu yang mengalir. Perlahan-lahan, aku akan belajar lagi untuk mengenakan jilbab."

"Sebenarnya, aku juga sudah menawarkan opsi itu kepada ibuku. Namun, beliau menolak. Ayoolah, sayang. Apa susahnya menerima syarat itu. Kau penuhi syarat itu, kemudian kita bisa menikah." aku terus memaksanya.

"Sekali lagi, tidak bisa Doo. Aku tidak mau dipaksa kalau urusan seperti ini. Bukankah dalam agama kita ada ayat yang berbunyi Laa ikraaha fiddiin. Tidak ada paksaan dalam beragama." Lia masih bersikeras menolak, bahkan dia masih hafal salah satu potongan ayat Al-Quran beserta artinya.

"Ayat itu benar, tapi penggunaannya tidak tepat dalam konteks ini, Lia."

"Doo, kau bilang kepadaku bahwa tidak masalah dengan keadaan aku sekarang yang tidak menggunakan jilbab. Tapi kenapa sekarang kau malah memaksaku untuk mengenakannya kembali? Dasar laki-laki sama saja semua. Tidak ada yang konsisten!"

"Bukan begitu, sayang. Aku menghormatimu karena pilihanmu yang tidak mau mengenakan jilbab. Adalah hak setiap individu, mau pakai jilbab atau tidak. Tapi ini soal lain. Perkara kewajiban, ini adalah hal yang wajib yang tidak boleh ditinggalkan. Aku sebagai seorang suami, nantinya, harus memastikan istriku untuk taat pada perintah agamanya."

"Yaa, bener. Kan kau bilang nanti. Bukan sekarang. Aku belum siap kalo sekarang. Ayoolah, Doo. Aku sudah bener-bener cinta sama kamu, dan kamu pun begitu. Aku tahu. Kita kawin lari aja, bukankah laki-laki tak ada kewajiban untuk menikah dengan seizin orang tuanya. Yang harus mendapat izin itu pihak perempuan, laki-laki tidak!"

"Tawaranmu benar. Di dalam agama kita, memang laki-laki tidak harus izin kepada orang tuanya untuk menikah. Tapi, itu sama saja perbuatan yang tidak beradab. Sama saja aku kabur dari orang tua, tidak berkah nanti kalo kita menikah dengan cara seperti itu."

"Terima tawaranku, atau aku lompat dari lantai 25 ini. Aku serius, aku tidak main-main, Doo!" kini Lia yang balik mengancamku.

"Liaaa! Jangan main-main. Tenangkan pikiranmu. Kau bisa mati kalau lompat dari lantai 25 ini."

"Aku serius, aku tidak main-main. Nikahi aku, aku tidak mau memenuhi syarat dari ibumu. Aku benar-benar mau meloncat sekarang." Lia seraya berdiri dari kursinya, aku dengan sigap menahan tangannya.
"Lepaskan tanganku, kita bukan mahram, Doo!"

"Aku akan melepaskan tanganmu, tapi kamu duduk dengan tenang. Berpikirlah dengan jernih, malu dilihatin pengunjung lain yang ada di cafe ini." para pengunjung cafe yang lain sudah mulai memerhatikan keributan kami.

"Lepaskan aku!"
Aku akhirnya melepaskan cengkraman tanganku. Dia kembali memberikan tawaran, "Ini penawaranku terakhir. Kita menikah, tetapi aku tidak mau memenuhi syarat dari ibumu. Atau, aku benar-benar akan melompat."

"Lia!" Aku sedikit membentaknya, "Ayoolah, apa susahnya mengenakan jilbab. Tidak ada yang salah dari itu. Kamu pake jilbabnya besok, bulan depan aku jamin kita bisa menikah! Kalo kamu memang masih tidak mau, ya sudah. Silahkan lompat saja sana, aku tidak peduli lagi!"

"Ya udah, kalo emang begitu maumu, Doo." Lia tertunduk, dia menghabiskan minumannya. Setelah itu, dia berjalan santai ke pinggir pagar. Dan, boom. Lia benar-benar melompat dari lantai 25.

Aku shock sekali melihat kejadian itu. Lia benar-benar melakukannya. Dia benar-benar lompat dari lantai 25.
Keesokkan hari, berita itu tersiar. Viral dari media sosial. SEORANG PEREMPUAN JATUH BUNUH DIRI DARI LANTAI 25, SETELAH BERTENGKAR DENGAN SANG KEKASIH. Begitu judul beritanya.
Praktis, berita kematian Lia menjadi pengalihan isu yang baik. Berita tentang korupsi dana Bansos 17 Milyar, dan berita tewasnya enam anggota FPI, lenyap dari televisi.

***

SEPERTI BIASA, CERITA INI HANYALAH FIKSI.
TIDAK NYATA, CERPEN BELAKA! :)

Share:

45 komentar

  1. Balasan
    1. Eh tadi nggak bisa ke publish hahahaha πŸ˜…

      By the way, salfok sama nama Lia, ini bukan Lia the dreamer, kan? πŸ˜‚ Untung saya sudah kebal berkali-kali dilempar fiksi sama mas Dodo, jadi tau kalau tulisan ini sepertinya termasuk fiksi dan ternyata benarrrrr πŸ˜†

      Hapus
    2. Tes tes tes

      Yaaak, ini bukan Lia the Dreamer yaa mba eno πŸ˜…πŸ˜…

      Hapus
  2. Nama ceweknya bikin salfok, Do. Aku kira Lia si peri imut yang aku kenal 🀭. Eh, tapi jangan-jangan kamu bikin karakter ini gara-gara terinspirasi si Lia beneran lagi. Hehehe 🀭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lia si peri imut nan menggemashkan #eaakkk

      Bukan, itu terinspirasi dari Lia lain. Teman kuliahku beneran ada yg namanya Lia πŸ˜…

      Hapus
    2. Wah, the real another girlfriend ya berarti si Lia, Doooo? πŸ˜‚

      Hapus
  3. wah ada yang baru lho! apa tuu? itu lho, ukhtivis wkwkwk

    lumayan lucu sih istilahnya, memang orang Indonesia enak banget maen plesetin kata

    BalasHapus
  4. Yah begitulah peradaban, tradisi dan sejenisnya.. Kita yang mencoba keluar dari jalur pasti bakal dihalang-halangi.. Btw, ini sekedar cerpen fiksi apa mewakili diri sendiri nih, Mas?

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Kayaknya bukan dibom tapi dikucek-kucek. Eh itu mah boom deterjen ya.🀣

      Hapus
    2. Bukan boom, tapi Rinso aja, atau Daia, hahahaa

      Hapus
  6. Begitu baca mas Dodo tinggal di Depok dan kerja di Jakarta maka aku udah nebak ini pasti fiksi dan ternyata benar.

    Tapi biarpun fiksi tapi bagus kok mas Dodo. Wajar bagus karena katanya mas Dodo bentar lagi mau rilis novel ya.πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, terima kasih atas apresiasinya omm Agus.. mohon doanya :))

      Hapus
  7. aku pernah sekali melangkahkan kaki di depok di perbatasannya dengan pondok labu
    asli girang banget meski langsung balik lagi ke Jaksel wkwkwkkw


    lah kok sad gitu mas

    ngomongin politik di depok emang unik si

    BalasHapus
  8. Wooooiiiiiii gw orang Depok nih luh jangan ngada2 Do...Beeehhhaaaa suuueee.🀣🀣🀣

    Luh pernah kedepok nggak Do2...Kalau pernah datang lagi Do..Ntar gw kasih primadona depok namanya Lia juga.😊😊 Mau nggak.πŸ™„


    Dulu ada do didepok orang mau lompat dari jembatan penyebrangan karena putus cinta...Tetapi akhirnya setelah ditenangkan dan ditawari cowok ganteng nggak jadi bunuh diri..🀣🀣🀣


    Cerpenmu juga menarik do.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahaa, suwun ada Legend dari Depok nih. hahaha
      Gue belum pernah ke Depok, sih. Tapi kalo nanti ke sana, nampaknya wajib berkunjung ke rumah OM satria nih hahaa

      Hapus
  9. Namanya terdengar familiar ya, Do 🀣

    Kisah cintanya kenapa tragis banget 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Lia masih hidup yaa ternyata, bukannya udah lompat dari lantai 25, wokwowk

      Hapus
  10. Sabar ya Mas.
    Yang tabah ya.
    Semoga ntar dapat yang lebih baik lagi.

    🀣🀣🀣🀣

    Cerpennya menarik Mas, meski masih bingung sih alasan si cewek jadi seperti itu, terus kenekatannya buat bunuh diri alias motifnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa bingung kenapa bisa jadi mau bunuh diri, btw ide dia mau bunuh diri tiba2 aja muncul di kepala kwkwkw

      Hapus
  11. Fiksi yang sangat menarik
    Saya membacanya sampai tuntas
    Perjalanan seseorang memang tidak ada yang bisa menebaknya
    Saya juga tak bisa memberikan komentar terlalu banyak, takut menghakimi atau menggurui

    BalasHapus
  12. Meaki hanya fiksi tapi ceritanya menarik juga . Tapi tokoh Lia mengapa kok loncat dari lantai 25? Emang dia niat bunuh diri ya? Pikiran nya pendek banget.. kalau memang syarat dari Dodo nggak bisa dipenuhi sama Lia ya udah pisah aja sama Dodo. Mungkin memang bukan jodoh.
    Enak si Dodo masih bisa nyari cewek lain yang lebih baik dan lebih nurut. Btw kata dan pesan ibu Dodo emang ada benarnya.. Biasanya feeling seorang ibu kepada anak nya selalu tepat. Buktinya Lia bukan gadis yang tepat buat Dodo. Cerita yang bagus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah membaca ceritaku mbak 😊

      Hapus
  13. Whaattttt!! Kok Lia lompat juga sihhhh.... Huhuuu

    Bagus banget kisahnya ni mas dodo.. Seru sekali saya membacanya!!

    BalasHapus
  14. kerja di fmcg daerah rasuna said...perusahaan apaan ya πŸ™„

    bagus ya ceritanya hihi

    gambaran ceweknya juga bagus, kukit sawo matang punya senyum manis walau pas kuliah agamis banget namun pas uda nyemplung di lingkungan kerja apalagi jakarta langsung berubah 180 derajat...walau begitu ternyata dodo masih tetap cinta meski nda dapat restu dari ibundo tercinto maka berakhirlah percintaan tak direstui itu dengan tragis huihui

    btw keren amat yak pas adegan langsung ngrokok dengan santuy begitu..hahahhahaa.

    tapi bgitulah do
    klo uda di jakarta, godaan itu biasanya lingkungan

    pesen orang tua biasanya klo anak uda gawe di sana adalah wanti wanti sholat 5 waktu jangan sampe amnesia tuk yang muslim ya, sebab banyak juga kenalanku yang pas uda gawe di jakarta mendadak jadi islam ktp tok, nda pernah sholat lagi heuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dicari di Google Maps, mbak. Hahaha. Perusahaan Perancis. D****e. Wkwkwk

      Yaaa secara tak langsung, cerita terinspirasi dari kenyataan demikian. Ketika merantau, jauh dari orang tua, bebas, malah berubah menjadi lebih jauh dari agama. Hikss :((
      Semoga kita semua dijauhkan dari hal demikian. Aamiin...

      Hapus
  15. ngikikkk baru tahu ada sebutan uktivis hahaha

    BalasHapus
  16. Ukhtivis.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  17. Emang bener apa yang dinasehatin ibu pada anaknya, kudu diturutin aja. Ga kepengen kan anaknya dapat isteri yang gimanaaaa gitu. Soal pakai hijab, itu bisa sambil dinikmati tanpa paksaan meskipun memamng wajib buat muslimah ya. Berarti bukan jodoh hihihihi. Fiksi yang ehemmm.

    BalasHapus
  18. cinta lama bersemi kembali nih :D
    kalo udah cinta kadang akal sehat dilupain ya, sampe nekat menjatuhkan dirinya dari ketinggian.
    puk puk mas Dodo

    awal awal baca tadi mikir seperti biasa, ini fiksi atau bukan, fiksi atau bukan :D

    BalasHapus
  19. Seweemmm banget ceritanya..πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’

    BalasHapus
  20. Sebegitu alerginya Lia dengan jilbab, sampai rela melompat dari lantai 25 :((

    BalasHapus