12. Bromo

Jum'at, 21 Desember 2018

Hampir pukul dua dini hari, aku terbangun dari dinginnya malam. Dari sudut Mushollah lamat-lamat ku perhatikan sudah sepi. Padahal, yang aku ingat beberapa jam lalu cukup banyak orang di sini.
Teman-temanku sudah bergegas, bersiap menuju lapangan parkir restoran. Sudah banyak yang berbaris rapi di sana.

Aku sudah mempersiapkan pakaian yang cocok menuju Bromo.
Aku memakai beberapa lapis atasan. Lapisan paling dalam adalah baju kaos oblong, kemudian baju panjang Majelis Ta'lim (ekskul Rohis di SMA), Black Jack (jaket Himpunan Mahasiswa Elektro) dan paling luar jaket KKL.
Untuk bawahan juga beberapa lapis. Lapisan paling luar adalah celana panjang, kemudian lapisan selanjutnya adalah .......
(tidak perlu dijelaskan 😊).
Selanjutnya, aku menggunakan kupluk, kacamata, syal, masker, dan juga sarung tangan yang aku beli tadi sore di Museum Angkut dengan harga sepuluh ribu rupiah.
Untuk alas kaki, awalnya aku hendak memilih sendal. Namun aku urungkan. Aku memilih sepatu, dengan kaus kaki.
Dresscode-ku, gambar diambil pukul 04.47 WIB

Rasa ngantuk kini telah hilang. Kami telah berbaris dengan rapi, bersiap menaikki mobil elf. Satu mobil memuat orang dua belas. Tour guide kali ini tidak hanya dari pihak travel, namun bertambah. Ada beberapa penduduk lokal. Mereka memberi beberapa pengarahan kepada kami. Aku tak ingat betul, cukup banyak yang mereka katakan.
Namun ada salah satu kalimat yang masih ku ingat, "Kalian jangan banyak bengong. Perbanyak baca doa dan ayat kursi."

Pukul setengah tiga dini hari, mobil yang kami tumpangi meluncur dari Rumah Makan Bromo Asri menuju Gunung Bromo. Awalnya, aku hendak melihat-lihat pemandangan di luar dari dalam mobil. Namun, karena masih sangat gelap. Aku tidak dapat melihat apapun di luar, aku putuskan untuk tidur. Teman-teman lain pun demikian.

Setelah lebih dari satu jam perjalanan di mobil, kami berhenti di suatu masjid. Ini masih pagi sekali. Namun, siapa menyangka. Adzan Shubuh di sini berkumandang sebelum jam empat pagi! Padahal, di Palembang biasanya adzan Shubuh berkumandang sekitar pukul setengah lima lewat. Tahukah kamu, jika di rumah, aku masih dimana sebelum jam empat pagi? Yaa, aku masih di alam mimpi!

***

Waktu sholat ditetapkan berdasarkan kondisi matahari. Matahari terbit memiliki arti waktu Shubuh dimulai. Matahari tepat berada di atas kepala, berarti waktu Zhuhur telah masuk. Dan waktu Maghrib, ditandai dengan terbenamnya matahari. Bagaimana dengan penjelasan waktu Ashar dan Isya? Silahkan cari sendiri di Google!
Yaa, Islam dan Sains pada dasarnya tidak dapat dipisahkan. Keduanya tidak bertentangan.

Jamak kita ketahui, matahari akan lebih dahulu terbit dari bagian timur. Itulah sebab, wilayah Indonesia Timur lebih cepat 2 jam dibanding kita (Indonesia Barat). Karena waktu mereka lebih awal, artinya wilayah timur akan lebih dahulu melakukan sholat dibandingkan wilayah barat. Misal, umat Islam di Jayapura sudah melakukan Sholat Isya ketika orang Aceh masih dalam perjalanan menuju rumahnya. Betul, kan?
Kalau kita ambil dalam lingkup yang lebih kecil, inilah sebab waktu sholat Probolinggo lebih cepat sekitar setengah jam dibanding Palembang.

Penunjuk Sholat di salah satu masjid, di sekitaran Bromo

Tepat pukul 03.44 WIB, adzan Shubuh berkumandang, temanku Royhan yang mengumandangkannya.
Beberapa menit yang lalu, kami telah mengambil wudhu. Ini sedikit ribet. Karena aku harus menanggalkan jaket dua lapisku, haha!
Suhu di sini begitu dingin, jauh lebih dingin dibandingkan Bandung. Menurut perkiraanku, suhu air di sini seperti es batu. Aku tidak pernah wudhu dengan air sedingin itu, apalagi di Shubuh hari seperti ini. Ditambah lagi, ini sebelum jam empat pagi. Dinginnya semakin menjadi-jadi.

Oke, lanjut.
Setelah itu, kami kembali menuju mobil elf untuk melanjutkan perjalanan. Setelah sekitar setengah jam perjalanan yang berliku, kami turun. Kami menaikki mobil lain lagi. Aku begitu mengenal mobil ini sejak kecil. Belasan tahun lalu, aku sering melihat di televisi sebagai mobil para penjahat, sering ada di sinetron Indo*siar. Ya, ini adalah mobil Jeep! Mobil ini digunakan karena tidak akan ada jalan aspal lagi. Kami akan melewati lautan pasir sejauh beberapa kilometer. Hanya mobil jeep yang cocok digunakan pada medan seperti ini.

Beberapa mobil jeep dan kuda di Lautan Pasir Bromo

Tujuan pertama kami adalah melihat matahari terbit. Kami berjalan kaki menuju tempat yang semakin lama semakin menanjak. Ini sudah dekat dari Bromo, tapi jauh. Eh, gimana sih!
Intinya adalah, dari tempat yang cukup tinggi ini aku bisa melihat Gunung Bromo dari kejauhan.
Oh ya, jangan lupa! Di sebelah Bromo ada gunung lain lagi, namanya Gunung Batok. Aku melihat pemandangan ini begitu takjub. Betul-betul sungguh indah, sangat menyejukkan mata. Lisan ini tak henti-henti menyebut nama-Nya. Allahu Akbar!

Di bawah ini adalah pemandangan keduanya, foto ini diambil pukul 04.56 WIB.

Pemandangan matahari terbit
Gunung Bromo dan Gunung Batok dari kejauhan

Setelah puas memandangi matahari terbit, kami kembali turun menuju lautan pasir. Di sana sudah banyak kuda yang siap mengantar ke puncak Bromo. Harga sewanya? Kalau tidak salah, seratus ribu rupiah. Cukup mahal, aku tidak jadi menaikkinya. Aku lebih memilih berjalan kaki. Banyak orang yang melakukan hal serupa. Tour guide mengatakan kepada kami bahwa waktu normal untuk mencapai puncak Bromo, dibutuhkan waktu sekitar satu jam. Aku fikir, tak masalah.

Pura Luhur Poten Bromo Ngadisari, Pura agama Hindu

Ada hal menarik yang aku jumpai ketika tengah berjalan menuju kawah Bromo di puncak. Kami menemukan Pura agama Hindu, persis di kaki gunung. Ternyata di sini banyak orang Hindu.
Menurut akun twitter @HinduGL (Hindu Garis Lucu). Hal yang akan dilakukan jika umat Hindu menemukan tempat yang indah adalah, membangun Pura. Kita saksikan hari ini, Pura seringkali dibangun di tempat-tempat yang indah. Kenapa? Karena menurut ajaran agama Hindu, Tuhan mereka (bukan Tuhan kita) disebut Satyam, Siwam dan Sundaram. Tuhan mereka baik, benar dan indah.


Kawah Bromo, pukul 06.59 WIB

Dan akhirnya, kami mencapai kawah Bromo yang berada di puncak. Katanya, kawah ini mengandung belerang atau sulfur. Untuk menuju ke atas sini kalian harus berjalan menaikki jalan mendaki. Namun, tenang saja. Ketika sudah hampir mencapai puncak, akan ada tangga di sana.
Pagi-pagi ini, dengan suhu udara yang masih sangat sejuk, aku fikir tidak terlalu lelah untuk mencapai ke atasnya.
Oh ya, dari sini kamu juga bisa melihat pemandangan Gunung Batok dari sisi yang lain. Tidak kalah indah.

Foto dengan latar belakang Gunung Batok

Kembali turun dari puncak Bromo

Setelah puas beberapa saat di puncak. Lagi-lagi diri ini terus menerus memuji Sang Pencipta. Begitu indah apa-apa yang telah Dia ciptakan. Sungguh sejuh mata ini memandang hamparan alam ini. Maasyaa Allah!

Selanjutnya, kami kembali turun menuju lautan pasir. Di sana sopir mobil jeep masih setia menunggu untuk mengantarkan kami. Kami masih membutuhkan waktu satu jam untuk sampai ke bawah, Kalau dilihat dari gambar di samping, beginilah suasananya. Tangga hanya ada di dekat puncak kawah Bromo. Setelah itu tidak ada. Kamu harus berhati-hati ketika berjalan di sini.

Gambar ini cukup menggambarkan betapa melelahkannya perjalanan ini, bukan?





Akhirnya.
Perjalanan wisata kami di kawasan Bromo ini berakhir. Kami telah duduk manis di dalam mobil jeep. Pantat-pantat kami akhirnya mendapat waktu untuk beristirahat. Belasan menit kemudian, kami telah tiba di depan mobil elf. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil ini, kembali ke Rumah Makan Bromo Asri.
Waktu perjalanan mencapai hampir dua jam. Mayoritas kami sudah kelelahan, banyak yang tidur ayam di mobil. Termasuk aku.

Ketika menuliskan cerita ini, aku rasa ini adalah bagian paling menarik. Sekelebat peristiwa-peristiwa itu langsung terngiang di kepala. Mengingatkanku pada si Fulan, si Fulan hingga Fulanah.
Bisa jadi, ini adalah bagian paling dikenang bersama seluruh teman-teman Teknik Elektro Unsri angkatan 2015.

Saya akan merindukan kalian semua!


Teknik Elektro Unsri angkatan 2015 di Bromo

Share:

14 komentar

  1. Entah kenapa lebih suka cerita ini dibandingkan part sebelumnya. Mungkin karena ini lebih detail, deskpritif, dan lebih... normal? Wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalo normal. Haha, btw makasih udah mampir..

      Hapus
  2. Gak tau kenapa kalo orang-orang foto di bromo itu viewnya bagus banget, dan di foto uhh bagus dong. Kapanlah saya bisa maen-maen ke bromo :'(

    Ya ampun kak, itu ada kata yang lupa sensor yah pan**t wkwk
    But, ceritanya bagus kak😃

    BalasHapus
  3. Ayo kapan-kapan kita agendakan ke sana!

    BalasHapus
  4. Duh,baca tulisan kakak, auto flashback pada rencana PKL kami yang ditunda (sampai waktu yang tidak ditentukan) karena kehadiran Si Kecil Pembunuh (Covid-19). Alurnya sama sepertinya,ada ke Bromo jugaa. Hmm pengen cepat2 kesana jadinya...😇 mestinya berangkat pada 23 maret lalu.

    BalasHapus
  5. Duhh terbawa alur cerita ini karena pengen kesini juga. ceritanya juga bergambar jadi nambah halu ingin berlibur kesana, setelah membaca cerita ini jadi tidak sabar untuk KKL tahun ini kkwkw, semoga kami juga kebromo kakk wkwk,

    BalasHapus
  6. bromo, dulu pas SMP pengen bgt kesini, skrg sih malah males jalan2. tpi kak, sholat subuh itu bukan berdasarkan matahari terbit. matahari terbit kan dilarang sholat, sekitat 10 menit bada matahari terbit barulah sholat syuruk.cmmiw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas koreksinya. Setelah ini akan diedit, insyaa allah

      Hapus
  7. Selalu ada bagian bagian yang buat aku ketawa dan senyum sendiri. Bahasa yang ringan dan juga sangat deskriptif. One day, I hope we can go there together, with our couples. Aamiin. That's place is very nice to be destination.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke mari kita agendakan ke sana dgn couple masing".
      Namun yg terpenting adalah, mencari couple nya terlebih dahulu. Xixixixi...

      Hapus
  8. Akhirnya agak waras tulisan kau Do. Ada informasi yang bisa diambil dan mungkin di suatu hari nanti berguna buat pembaca :v

    BalasHapus
  9. Belum afdol kak kalo belom cubo makan bakwan di bromo wkwk

    BalasHapus