Santuy-nya Liberalisme

Setelah sebelumnya menulis tentang Komunis, kali ini aku akan menulis mengenai faham lain yang cukup bertolak belakang. Liberal.
Aku mengenal faham ini ketika menjadi siswa SMA kelas satu. Rasanya, istilah Liberal pertama kali aku dengar dari mata pelajaran PPKn (Pendidikan Propaganda dan Kewarganegaraan), dan mata pelajaran Sejarah.
 
Kata guruku, Liberal adalah faham yang menganut rasa kebebasan. Simpelnya, orang-orang Liberal ingin santuy dan bebas sebebas-bebasnya dari aturan agama dan budaya ketimuran yang mengekang.
 
Namun, temanku nampaknya salah memahami definisi ini. Saat itu, di sekolah ada seorang teman yang tidak memakai dasi di kelas. Katanya, dasi cuma dipakai untuk upacara bendera saja. Di kelas mah, tidak perlu.
 
Salah seorang mem-bully temanku itu, “Huu.. dasar liberal, santuy sekali ente! Dasar mau jadi orang bebas yang tidak mau taat aturan!” Tapi, itu hanya dalam rangka bercanda, yaa. Bukan serius. Hehe.
 
Selain dari pelajaran PPKn dan Sejarah, aku mengenal faham Liberal dari Rohis. Yaa, betul. Rohis mengajari kami Liberalisme.
Eh tunggu, bukan gitu maksudnya! -_-
 
***
 
Aku menjadi siswa di salah satu Bimbel (bimbingan belajar) yang ada di Palembang, letaknya sangat dekat dengan Jembatan Ampera yang telah mejadi ikon kota. Jarak gedung Bimbel dan Jembatan Ampera hanya sepelemparan batu. Dekat sekali.
 
Selepas shalat Ashar, seorang teman berkata kepadaku, “Doo, kamu dicariin Mbak Zie. Katanya dia lagi cari anak Rohis.” Mbak Zie adalah tutor Bahasa Inggris di bimbel itu.
 
Sekejap kemudian, aku telah menemui Mbak Zie yang bernama asli Fauziyah. “Mbak Zie mencariku? Ada apa, mbak?” Tanyaku.
 
“Iya, dek. Kamu anak Rohis kan? Mbak sama temen-temen boleh main ke sekolahmu? Kami mau sosialisasi.”
 
“Boleh, mbak. Datang aja Sabtu ini. Sosialisasi untuk apa? Promosi bimbel ke anak Rohis yaa?”
 
“Yaa, bukan lah! Promosi Bimbel gak harus ke anak Rohis, lah. Seluruh orang boleh ikut bimbel! -_-” Mbak Zie terlihat kesal dengan responku. Aku hanya tertawa kecil.
 
“Yaah, aku kira anak Rohis mendapat diskon khusus, mbak! Hehehe.“
 
Beberapa dialog terakhiir adalah fiksi, yaa! Hihihii...
 
Hari Sabtu, Mbak Zie dan teman-temannya benar-benar datang ke sekolah. Katanya, mereka dari komunitas ITJ; Indonesia Tanpa JIL. Apa pula JIL? Itu adalah Jaringan Islam Liberal. Nama komunitas yang unik, sebab ada singkatan di dalam singkatan. Wkqwk!
Saat itu, ada dua orang mas-mas dan empat orang mbak-mbak. Mas-masnya berjanggut tipis, mbak-mbaknya semua berhijab lebar, lebar sekali hampir menutup seluruh badan. Karena aku adalah laki-laki yang normal, sudah barang tentu aku jadi sering memerhatikan mbak-mbak tersebut. Karena di sekolahku, adalah langka orang yang menggunakan hijab selebar itu. Aku tidak memerhatikan mas-masnya. Untuk apa, aku bukan penyuka sesama jenis! #eh
 
Sosialisasi dari mereka dimulai, aku masih fokus ke mbak-mbak berhijab lebar, bukan ke materi.
Salah satu materi yang aku ingat adalah, mereka menununjukkan tulisan-tulisan orang Liberal nan open-minded, kebanyakkan memang dari Twitter.
 
Berciuman adalah sedekah dan akan mendapat pahala karena kita menyenangkan orang lain.
 
Haah! Aku menganga, tidak habis thinking. Kok bisa ada orang se-gobloq itu menarik kesimpulan. Saat itu, aku masih postive thinking. Siapa tahu, itu hanya sebuah lelucon. Konteks berciuman disana adalah dalam rangka suami yang mencium istrinya. Tidak masalah memang. Halal 100%.
 
Kemudian, ada pulai yang menulis begini.
Jilbab itu pakaian khusus dipake buat shalat dan pengajian. Kalo keluar dari situ, di tempat umum ya kudu dibuka. Bego lu!
 
Aku melongo, ini yang bego siapa sih!
Lagi-lagi, aku masih ber-husnuzhon. Berbaik sangka. Sebab aku saat itu tidak pernah melihat tulisan semacam itu di Twitter. Isi dari timeline-ku hanya twit-twit galau, retjeh dan tidak jelas dari teman-teman di sekolah.
 
***
 
Hari terus berjalan, Twitter sudah jarang aku buka selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya, sejak pandemi ini melanda, dan aku memang tidak ada kerjaan, aku kembali aktif ke dunia itu.
Pertemananku semakin luas. Timeline sudah semakin beragam. Mulai dari isu agama, politik, ekonomi, iptek hingga gosip para artis. Semuanya muncul di timeline.
 
Omongan dari mba-mba ITJ mulai terbukti. Saat itu, ada sesuatu yang viral. Seorang anak muda berusia 17 tahun. Perempuan cantik, good looking, selebriti dan punya banyak followers.
Kasusnya? Pacarnya (tidak) sengaja meraba payudaranya, dan kegiatan itu terekam di media sosialnya.
 
Bagaimana tanggapan netizen? Beragam.
Banyak yang berkomentar seperti ini.. Jika mereka hendak melakukan itu, harusnya tidak di depan umum. Jangan direkam dan disebar ke publik.
Tidak satu-dua orang yang berkomentar seperti ini. Banyak sekali pendapat seperti itu berseliweran. Aku bingung.
Dalam benakku, komentar yang benar adalah.. Harusnya mereka tidak melakukan itu. Udah, cukup sampe situ. Tidak usah ditambah-tambahin. Komentar sebelumnya, seolah-olah mengindikasikan bahwa perbuatan tersebut boleh-boleh saja dilakukan, namun tidak boleh disebar. Padahal, menurutku perbuatan seperti itu. Mau direkam ataupun tidak, yaa tidaklah patut dilakukan.
 
Apa yang terjadi hari ini?
Nampak di media sosial, anak-anak muda kita santai sekali. Seolah biasa saja dengan pemikiran liberal dan pergaulan bebas seperti itu. Aduhaii..
Padahal, apabila kita bertanya kepada hati nurani. Apakah kegiatan semacam itu dibenarkan? Apakah kita boleh menggrepe-grepe payudara seseorang, walaupun konteksnya si empunya santuy saja? Tentu saja jawabnya tidak.
 
Ah yaa.. akan tetapi, lagi-lagi, itu sebenarnya adalah urusan pribadi orang. Kita tidak berhak mencampuri urusan mereka.
 
***
 
Masih ngomongin liberalisme. Satu lagi yang membuat aku kesal dan bingung adalah Consensual sex. Hubungan seks dalam kerangka persetujuan, suka sama suka, mau sama mau, sukarela. Aritnya, kita boleh skidipapap-wadidaw jika laki-laki dan perempuan sama-sama setuju tanpa paksaan.
 
HOOY! MAU SAMA-SAMA SUKA ATAU TIDAK ITU TETAP HARAM KALO BELUM JADI PASANGAN SAH SUAMI ISTRI!
 
Kalau kami mau skidipapap-wadidaw, masalahnya dimana? Apa hak orang lain ikut melarang? Kata beberapa orang di kolom komentar suatu media sosial.
 
Menurutku, orang lain jelas punya hak, walaupun secara tidak langsung. Apa itu? Hak untuk melindungi generasi muda dari pikiran liberal nan gobloq seperti ini.
Kenapa? Seandainya pikiran dan pemahaman ini terus dibiarkan berkembang, terutama di kalangan para pemuda Muslim. Lama kelamaan, mereka bisa saja akan berfikir. Ooh, ternyata kalo skidipapap-wadidaw atas dalih suka sama suka, itu tidak ada masalah, sah-sah saja!
 
Duhai, jangan sampai pikiran seperti ini dibenarkan oleh generasi di masa mendatang.
 
Lagi. Jika kamu masih menganggap hal tersebut tidak masalah. Coba kita tanyakan ke orangtua kita. Misalnya, coba izin sama mama.
Ma, aku mau skidipapap-wadidaw sama pacarku besok, di Hotel X. Boleh yaa!
 
Kira-kira, apa reaksi si mama?
Berikan pendapatmu di kolom komentar, yaa! :)
 
 



Tags:

Share:

85 komentar

  1. Karena aku bukan mama mama maka aku tidak bisa jawab pertanyaan mas Dodo, nunggu mama lain saja yang jawab.πŸ˜‚

    Yah, pemikiran seperti itu memang cukup banyak di Indonesia dimana katanya sekarang bebas asal suka sama suka. Padahal memang berbahaya, bagaimana kalo nanti melendung sementara belum nikah? Kan orang tua malu.

    Eh, terus kalo ngga melendung apa boleh?

    Kalo itu tanyakan pada adminnya ya.πŸ˜‚

    Btw, skidipapap-wadidaw itu apaan sih mas Dodo, baru kali ini aku dengar istilah ini.πŸ€”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha aku yg ndak ngerti apa itu melendung. Hahaha...

      Hapus
    2. Syukurlah ngga tahu, anak kecil mah ngga usah tahu.😁

      Hapus
  2. Kalau dengar kata liberal jadi ingat ibu saya jaman saya kecil saat saya hobi melawan / menjawab (jangan ditiru πŸ˜†✌️), ibu pasti bilang, "Hayooo jangan jadi anak liberal yang nggak tau aturan yah." hahahahaha. Dulu saya nggak paham maksud liberal, sebab ibu sering bicara itu since saya masih SD sepertinya. Dan saya pikir liberal artinya nggak boleh jawab kata-kata orang tua 🀣 -- sampai akhirnya baru paham makna sebenarnya ketika SMP/SMA hehe.

    On a serious note, saya sudah lama nggak ikuti perkembangan twitter, dan gosip terkini di Indonesia, kecuali memang ada di news yang biasa saya baca. Jadi nggak bisa komentar banyak mengenai hal-hal viral di luar sana πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, contoh yg bagus mbak. Nanti anak2 saya yg melawan kpd orangtua nya, bisa aja akan saya bilang "jangan jd anak yg liberal" atau ekstremnya, "nak, kamu jangan jadi anak yg komunis yaa"
      Ehhheh....

      Hapus
  3. Saya sering baca memang di twitter mengenai hal itu, dan kemudian saya tutup aja twitter, hahahaha.
    Bikin mental makin down rasanya, makin serem dengan pola pikir anak-anak zaman now.
    Terlalu menganggap dirinya maha hebat ngalahin Tuhan sih.

    Yang perlu kita lakukan memang adalah dengan memberikan benteng iman yang kuat buat anak-anak kita.
    Kalau yang lain di doain aja.
    Toh nanti juga kena batunya wakakakaka.

    Dikira enak apa sex sebelum nikah.
    Apalagi ceweknya.

    Duhhh kasian banget.
    Secantik-cantiknya wanita, lelaki paling bobrok di dunia ini pun lebih memilih menikah dengan wanita yang 'baik-baik', kagak mau cari resiko hahaha.

    Tapi susah sih ya dibilangin, biarin aja.
    Nanti juga dia tahu rasanya

    Astagaaahh....
    Ini saking desperate nya saya liat pola pikir anak-anak zaman now :D

    BalasHapus
  4. Huahahaha.. Aku terpaku dengan kata propaganda di PPKN.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyatanya, di pelajaran itu memang banyak propaganda kok! *eh

      Hapus
  5. wadidaw selalu dapat siraman rohani tiyep mampir blognya si dodo

    tapi aku uda ga pernah buka twitter sih, malah twitter ig rasanya pengen kuhapus suatu saat nanti ketimbang ngliatin timeline isinya banyak ghibah hahhaah, mending baca blog aja buat hiburan receh kalau aku mah

    tapi memang ya kalau ngomongin kebebasan anak muda masa kini tentu makin mencengangkan apalagi didukung keberadaan internet

    sebenernya pas sekolah aja dulu aku ga pernah pacaran
    termasuk cupu masalah percintaaan jaman skull dulu, sementara temen sekolahku uda gonta ganti pacar, ku cuma bisa ngenes tok

    jadi aku ya skidipapapnya ya sama pasangan sah lah langsung di malam pertama abis resepsi#eh gimana sih ini hahhahahah #error deh gw

    BalasHapus
  6. Wah, udah jelas reaksinya pasti langsung dicoret dari kartu keluarga kalau nanya kayak gitu🀣

    Tapi, omong-omong soal liberal, aku sendiri seringkali dilema, kak Dodo. Dilemanya karena lebih kepada gak mau peduli urusan orang, jadi bener2 mikir agamaku agamaku, agamamu agamamu. Sampai suka mikir, aku nggak liberal kan kalau begini? Karena menurutku kita berhak kok mengingatkan orang, apalagi sesama muslim, dan menjaga lingkungan sekitar kita tetap aman dari pola pikir keblinger, tapi sebatas apa yg bisa dijangkau aja. Karena kan sekarang semua yg kita lihat seringnya dari medsos, gak terjangkau, kalau diingatkan langsung pasti malah makin gak nyaman suasananya, yaaah tau sendiri gimana barbarnya netizen. Kalau udh gitu paling cuma bisa berdo'a aja supaya orang-orang yg melampaui batas ini segera disadarkan, begitupun untuk diri sendiri (semacam jd self reminder).

    Sangat disayangkan memang persoalan agama yg sifatnya mutlak selalu dianggap remeh, selalu disandingkan dengan logika. Padahal ada beberapa hal yg baiknya memang cukup dimaknai dan diimani, apalagi dalam konteks zina seperti yg dibahas di atas. Sementara untuk persoalan semacam patriarki, ketidakadilan gender (karena topik ini yg selalu panas), menurutku sendiri islam sudah begitu setara dan adil dalam membagi peran antara laki-laki dan perempuan, gak cuma sebagai gender, tapi sebagai manusia. Cuma memang manusia-manusianya sendiri yg terjebak dalam spektrum atau stereotip gender sehingga terkesan overglorifying agama, bawa-bawa nama agama tanpa substansi yang benar, padahal memang ketidakadilan itu manusianya sendiri yang munculkan. Dan sebetulnya sepenglihatanku seringkali ada kelompok orang yang terlalu ke kiri dan ke kanan, mengambil paham itu (baik eksternal maupun internal agama) secara bulat-bulat, sehingga semuanya tampak gak bisa berjalan beriringan. Padahal, menurutku, seharusnya kita bisa kok menjalankan kedua-duanya dengan bijak. Toh beragama pun harus pakai akal, gak boleh bulat-bulat menafsirkan ayat atau hadits, seperti yg sering terjadi, ada muslim liat orang non-muslim lantas dianggap kafir dan merasa paling tinggi derajatnya.

    Lah jadi curhat ini mah, kepanjanganπŸ˜† Tapi begitu sih kalau dari sudut pandangku, intinya kurang lebih setuju sama kak Dodo, berpikiran terbuka nggak lantas kita bisa mengesampingkan urusan agama dan mengutamakan kebebasan. Bagaimanapun bebas pasti butuh batas, toh syarat open-minded bukan berarti harus liberalπŸ˜‚. Sesungguhnya orang yg bijak dalam beragama dan berpikir, lalu mampu mengambil jalan tengah, menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat adalah mereka yang benar-benar open minded.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantulll.. Keren sekali pendapat mba Awl. Sangat setuju, semoga lebih banyak orang yang menjadi "open-minded" yaa!

      Hapus
  7. Waahh menganut pemahaman liberal kalau berlebihan juga bisa bahaya Do...😳😳

    Apa berdua2,an masih status pacaran juga 2 kali lebih bahaya terlebih masih anak sekolah yang boleh dikatakan masih bau kencur..😊😊

    BalasHapus
  8. Skidipapa wadidaw... hahhaah agak mikir cara bacanya...

    Semisal aku jadi mamanya? Aku bilang gini : Ya terserahh... besok nggk usah pulang. Atau kalian berdua nikah aja dlu baru skidipapa.. 😁😁

    Aku nggk paham sih yah... soalnya sabodo teing.. eheh. Medsos ku isinya pure. Hahah... jauh dari gosip2 atau postingan yg mengandung opini hirarki. Bahkan yg skrang lagi booming ttg UU omnibus aja aku skip2....

    BalasHapus
  9. bagus kak tulisannya. terkadang pemikiran orang itu semaunya aja tanpa di dasari ilmu dan keimanan. pengertian aturan agama dilihat dengan logika semaunya aja dan sesuai dengan nafsu saja.


    kalo saya jadi mamanya? hadeuh pertama kali saya pasti sedih dan merasa gagal mendidik anak..hehee. berharap Allah selaku lindungi keluargaku dari pemikiran liberar gak jelas itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaa, pastii sedih itu jadi mamanya kalo ada anak yg beneran "izin" sebelum mau begituan, hahaha

      Hapus
    2. Dan semoga, keluarga-keluarga kita terjauhi dari pemikiran liberalisme, aamiin

      Hapus
  10. Tentunya kalau bertanya seperti itu ke orangtua, kemungkinan besar nama kita akan dicoret dari KK dan garis keturunan 🀣

    BalasHapus
  11. Ahahaha... Berani nanya kayak gitu ke mama, besok-besok nggak dikasi masuk rumah lagi dan nama ilang dari KK.

    Tapi emang bener sih Mas, makin ke sini makin banyak orang yang berpikiran liberalisme.
    Seolah-olah semuanya bebas dilakuin kalo dianggap nggak merugikan orang lain. Padahal tuh tetap merugikan, bukan cuma orang lain, tapi diri sendiri. Udah gitu kan dosa sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betool, pemikiran dan tindakan mereka secara (tidak) langsung dapat merugikan orang lain yaa mas

      Hapus
  12. Pembahasan yang menarik sekali mas Dodo. Saya ngakak dengan istilah skidipapap-wadidaw (ini copas, takutnya salah pronunciation wkwk), dan saya juga sampai searching ke kbbi dan cambridge dictionary demi mencari tau arti sebenarnya dari liberalisme.

    Kalau dari KBBI katanya:
    n aliran ketatanegaraan dan ekonomi yang menghendaki demokrasi dan kebebasan pribadi untuk berusaha dan berniaga (pemerintah tidak boleh turut campur)
    n usaha perjuangan menuju kebebasan

    Sedangkan dari cambridge dict. katanya:
    the political belief that there should be free trade, that people should be allowed more personal freedom, and that changes in society should be made gradually.

    Nah, keduanya memasukkan kata "kebebasan", padahal kebebasan itu sendiri sifatnya subyektif.
    Dan hal-hal yang mendekati zina seperti yang mas Dodo jabarkan di atas, lebih ribet lagi itungannya. Mau marahin orangnya dan bawa ke ranah hukum, kok ya bakal ngabisin waktu dan uang banget. Mau dibiarkan, lah nurani ini berontak. Jadi bingung, kan ya... ^^"

    Apalagi kalau berada di negara dengan paham liberalisme, plus memegang prinsip kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa diganggu gugat itu termasuk di antaranya consensual sex, yah pada akhirnya memang cuma bisa menjaga diri masing-masing. Toh, sebagai manusia mereka juga ga ganggu saya dengan pilihan saya dalam beragama dan beribadah sesuai agama.

    Kalau saya keukeuh melarang mereka skidipapap-wadidaw karena secara agama juga yang ada nanti justru mereka yang akan berbalik antipati dengan agama saya. Ribet lah emang hablumminannas ini mah... ^^"

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah niat sekali mbaknya sampe buka KBBI dan Cambridge dictionary hahahaa

      Tapi, yaa pada akhirnya memang cuma bisa menjaga diri masing-masing. Setuju sekali dengan ini, mbak

      Hapus
  13. Banyak pengikutnya juga jaman ini yang liberal2 gini. Kalau saya sih gak setuju dan gak suka. Pada hakekatnya kaum liberalis tidak mau patuh aturan apapun termasuk aturan Tuhan.

    BalasHapus
  14. Wah berat ini topiknya ya.. Tapi itu, fakta di lapangan saat ini sudah banyak generasi saat ini yang teracuni dan yang skidipapap-wadidaw sesuka hati..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa, tapi kalo aku pribadi itu baru fakta di medsos yg aku temukan mas. Kalo fakta di lapangan, temen2 ku mislnya, alhamdulillah belum pernah ketemu..

      Hapus
  15. Emang deh namanya suka sama suka bla1000x itubisa membuat sepasang muda-mudi kalap ga karuan hingga melakukan hal2 yang diharamkan oleh agama Islam. Bagusnya zaman now udah banyak penginapan hotel dan semacamnya yang mensyaratkan jika sudah menkah menginap kudu bawa buku nikah ya.

    BalasHapus
  16. Ak u penasaran itu settelah mbak Zie bawa teman-temannya bertamu ke rumah mas Dodo, apakah mereka berniat ngajak mas Dodo ikutan komunitas mereka yg apa namanya ITJ? Lah mas Dodo menerima atau menolak mereka? Kalau menurutku liberal tetap harus ada batas-batasnya ibarat mobil harus ada rem nya, kalau nggak ada rem kan bisa maauk jurang dong? Jadi rem nya agama. Kalau terlalu liberal juga nanti yang rugi diri sendiri.ya nggak hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu bukan bertamu ke rumahku, tapi ke sekolah. Heheh..

      Apakah mereka mengajak ikut komunitas itu? Jawabmya tidak.

      Terus, apakah aku sepakat dengan ide mereka? Jawabnnya iya! πŸ˜€

      Hapus
  17. Hm.. I dunno mau komentar gimana Mas Dodo.
    Aku lumayan tertarik dengan filsafat yang mana liberalisme ada di dalamnya, dan apa yang kamu jelaskan di postingan ini menurutku agak berbeda dengan pengertian liberalisme yang semestinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semestinya gimana mbak? Emang sih pembahasan ideologi ini kadang beda-beda. Tergantung dari perspektif siapa yg ngebahas, hehe

      Hapus
  18. pengikut liberal ni ada di mana-mana... kalau di social media, paling ketara di Twitter. itu yang saya nampak. pada hal di sekeliling kita pun ramai yang berfahaman begini. semoga mereka diberi hidayah dan kembali ke jalan yang benar

    BalasHapus
  19. Susah mas kalo udh berhadapan dengan orang yg percaya paham begitu . Mau kita koar2 itu dosa, dilarang dlm agama apapun sbnrnya, ttp aja pasti dia punya pendapat lain yg sesuai kepercayaannya. Yg bisa aku lakuin, membentengi anakku dr pengaruh begitu. Semoga dengan ajaran yg aku ksh, bisa melekat di kepala dan hati mereka, jd kalo suatu saat mereka aku lepas mandiri, udh punya pegangan setidaknya :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga anak-anak kita, generasi penerus masa depan, bisa terbentengi dari hal hal hal tersebut yaa mbak. Aamiin..

      Hapus
  20. Oalaaaaaaah, jadi rohis mengajari kamu tentang liberalisme ya, Do. Hehehe. Iya iya, maksudnya gak seperti itu. Tapi sumpah, aku ngakak pas baca bagian itu, doooooπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Ngomong-ngomong tentang video yang tersebar di Twitter itu kyknya aku tau isunya deh, walaupun gak tau isi videonya kyk apa. Soalnya pas lagi viral, aku pikir yang dimaksud itu merek fashion terkenal yang lagi diskon gede-gedean. Gak taunya nama artis yang lagi skandal.πŸ™ˆ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahhaaa, yaa aku awalnya jg mikir tentang merk fashion yg terkenal itu mbak. Ternyata bukan yaa πŸ˜…

      Hapus
  21. Wah Mas Dodo anak rohis ya dulu? Kereen.. Semoga selalu tetap istiqomah yaa..
    Kadang memang klo liat liberal anak2 jaman sekarang berasa terlalu keblablasan. Cukup bikin khawatir apa lagi sebagai orng tua yg punya 3 anak cewek. Skrng aja kondisi udah ga gini, ga kebayang nanti pas mrka tumbuh dewasa lingkungan akan sprrti apa.
    Tp apapun itu, semoga kita semua tetap dilindungi dan terhindar dr pengaruh2 buruk itu yaa πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbak, aamiin... Saling mendoakan saja kita semua sesama muslim.. πŸ™

      Hapus
  22. Kalau aku bisa dibilang termasuk golongan liberal.
    Terserah orang lain mau ngapain saja, silahkan.
    Tapi ya ngga gitu-gitu amat liberalnya aku kayak ngelakuin sex bebas [Mon maap blak-blakan nih nulisnya, hahahaha]

    BalasHapus
  23. Hemmm... ada pertanyaan yang mungkin harus diajukan karena bicara masalah hak dan kewajiban, maka disitu harus ada dasarnya, bisa berupa aturan hukum tertulis positif karena norma atau etika masih sulit dipergunakan mengingat tata nilai setiap orang berbeda. Apalagi di masa sekarang.

    1. Pertanyaannya, siapa yang memberi hak kepada mas Dodo untuk "melindungi" generasi muda

    2. Apakah "generasi muda" memang memberikan hak kepada mas Dodo untuk melindungi dirinya?

    Beda kalau mas Dodo seorang polisi, hakim, jaksa, atau yang lain, tetapi disini mas Dodo kan merasa "berhak", nah pertanyaannya siapa yang memberi hak itu. Landasannya apa.

    Batasan hak manusia adalah dirinya sendiri dan orang-orang yang secara hukum berada di bawah tanggungjawabnya (tetap ada batasan). Dia tidak boleh mengatasnamakan orang lain selain yang disebutkan dalam Kartu Keluarga atau surat pemberian kuasa.

    Jadi, kalau mas Dodo tidak pernah menerima surat kuasa dari Generasi Muda tadi, artinya, mas Dodo tidak punya hak mengatasnamakan mereka.

    Mas Dodo boleh peduli dan berusaha dengan menanamkan pemahaman yang baik, tapi mas nggak bisa dan nggak boleh mengatasnamakan mereka.

    Okeh lanjut.

    3. kalau seseorang dilarang berpikir, pertanyaan lagi, mana landasan hukumnya, yang menyebutkan seseorang dilarang berpikir begini dan begitu.

    Kalau seseorang dilarang berpikir sesuai kemauannya, efeknya bisa fatal, karena Mas Dodo juga tidak boleh berpikir untuk melindungi generasi muda yang belum tentu meminta mas Dodo untuk melindungi...

    Bagaimana? Mau dibatasi dan tidak boleh berpikir?

    4. Masalah tindakan asusila bisa diproses karena ada aturan hukumnya dan tinggal dilaporkan ke yang berwajib.

    Masalahnya, kebanyakan orang cenderung lebih suka mempersekusi pelakunya dan pada dasarnya melakukan tindakan melanggar hukum sendiri. Dalihnya ya seperti yang mas Dodo pakai di atas "melindungi" generasi muda.

    5. Bagaimana kalau ada orang yang bisa menerima consensual sex, ya itu urusan mereka. Hak mereka untuk berpikir seperti itu dan mengemukakan pendapatnya. Tidak bisa ia dihukum hanya karena berpendapat begitu . Tidak ada aturannya.

    Kalau berpikir berbeda saja tidak boleh, berarti negara ini sudah menjadi negara otoriter.

    6. Masalah JIL dan penyampaian pendapat sudah ada rambu-rambu hukumnya, jadi silakan saja dilaporkan kalau memang terbukti ada hukum yang dilanggar.

    Tapi kalau sekedar berpandangan dan masih dalam koridor hukum yang ada, seharusnya tidak jadi masalah.

    Kalau ada orang yang berpandangan berbeda dengan mas, kemudian mas merasa berhak menghukum orang itu, tidak masalah karena untuk merasa tidak dilarang. Tapi kalau mas sudah mengambil tindakan fisi berarti mas melanggar hukum.

    Mas punya hak mengemukakan pandangan yang berseberangan bukan tindakan.

    Masyarakat cenderung suka memperlebar batasan "hak" dengan mengatasnamakan orang lain dan untuk mendapatkan pembenaran atau kekuasaan sehingga bisa menekan orang lain.

    Tapi sayangnya, banyak yang lupa pada kewajiban karena sibuk memperluas wilayah hak mereka. Kewajiban yang utama bagi masyarakat adalah mematuhi hukum yang ditetapkan.

    Jadi, selama tidak ada larangan orang untuk mengatakan pikiran mereka, ya sah-sah saja..Seberapapun absurdnya, hal itu diperkenankan oleh UU.

    Yang terpenting yang saya bisa lakukan adalah melindungi merea yang berada di bawah tanggungjawab saya, istri dan anak, agar tidak terkontaminasi. Karena batas saya disana.

    Itu pandangan saya terhadap tulisan di atas (sisi pandang agama tidak akan dibahas karena agama itu adalah masalah pribadi setiap orang dan tidak seharusnya diutak atik orang lain)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertama, terimakasih sudah membaca dan memberi komen yang sangat panjang pak. Suatu apresiasi bagi saya πŸ˜€πŸ™

      Baik, akan coba saya jawab.
      Untuk soalan no. 1 dan 2, konteks saya di sini adalah perspektif Islam. Jd, tindakan dan pemikiran seperti itu sesungguhnya bertentangan dengan ajaran agama. Maka, sebagai sesama muslim yg peduli, sdh barang tentu untuk berusaha menjaga dan saling mengingatkan agar tidak keluar jalur terlalu jauh.

      Soalan no. 3, saya tidak membatasi orang mau berpikir seperti apa. Itu hak semua orang. Namun, saya coba mengkritik saja. Krn twit-twit tersebut mencoba membenturkan dengan nilai keislaman.

      4. Yaa, masalah tindak asusila bisa dilaporkan. Untuk persekusi, di lapangan emang faktanya banyak yg seperti itu. Itu yg harusnya kita cegah bersama. Untuk saya pribadi, sekalipun tidak pernah mempersekusi orang seprti itu, pak.

      5. Mengenai aturannya, memang negara ini belum sempurna. Namun, setahuku hal itu dibahas di RUU P-KS. yang lagi-lagi.. Masih kontroversi. Ada yg pro ada yg kontra.

      6. Masalah mengutarakan pendapat, saya melawan pendapat mereka jg dengan pendapat. Saya tidak melakukan tindakan fisik ke mereka. Saya juga tidak menghukumnya krn saya bukan penegak hukum, pak. Ehehehe...

      Masalah agama emang hal yg "privasi", namun kita punya kewajiban untuk mengingatkan dan memberi tahu. Mana yg sesuai dgn koridor agama, mana yg tidak..

      Terimakasih atas diskusi nya, Pak! :))

      Hapus
  24. kita masih hidup di Indonesia dan ada adat, aturan agama yg mengatur dan rasanya kalau liberal seperti itu tidak cocok dengan di sini
    mumgkin kalau di Filipin kayak gitu udah banyak dan sudah mafhum (speengatahuan saya ya)
    kalau saya sih liberal tapi ada batasnya
    misalkan mengenai LGBT
    saya memberikan kebebasan pada teman yg memang mempunyai kecenderungan seperti itu
    itu hak mereka
    tapi, kalau mendukung gerakan mereka karena dasar kebebasan ya pasti saya menolak
    sama sih seperti sex bebas dan teori semacam ini
    itu urusan pribadi mereka namun secara pribadi saya tentu menolaknya
    yg penting membentengi diri dan keluarga agar tidak terjerumus pada hal hal "liberal" semacam itu

    yah begitulah kurang lebihnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mas Ikrom...good point sekali.

      Hapus
    2. Sepakat... Itu urusan pribadi mas. Tapi, kalo aku sih lebih menekankan kalo ini hal yg salah. Jangan diikuti..
      Tapi lagi-lagi terserah. Mau diikuti atau tidak

      Hapus
  25. Aduh sedih banget sih kalau pemikiran anak zaman now kek gitu. Secara aku juga punya anak-anak remaja, ngerasa banget bahwa peran orang tua penting buat kasih pondasi agama yang kuat. Jangan sampai ikut kebablasan. Kan serem.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa, semoga generasi ke depan jangan sampe banyak yg kebablasan yaa bu..

      Hapus
  26. Aku nemu stiker tentang JIL ini pas awal-awal kuliah. Lalu aku pun penasaran sama JIL ini. Karena di kampus kemudian orang membincang dan menjelek-jelekkan keberadaannya. Ibarat anak yang dilarang lalu malah penasaran donk yang ada. Aku terus nyari buku2y yang terkait dan sejarahnya. Karena bener2 nggak tahu apa itu liberal.

    Jadi, sebagai orangtua dan sebagai orang yang berupaya sebisa mungkin open minded, aku rasa, sebisa mungkin kita berupaya agar orang2 terdekat kita tidak terpengaruh pada hal2 yang tidak baik. Entah dengan nasihat, doa maupun sikap kita sendiri sebagai orangtua. Yang pasti ketika ada urusan yg dihadapi orang lain meski bersebrangan, kalo nggak diminta utk mengomentari ya sebisa mungkin nggak mengomentari. begitu sih kura-kura..

    Oh ya, justru malah aku nemu pengalaman gt jg kayak km do. Aku terjebak masuk rohis dan kerasa kalo yg bersebarangan itu langsung disudutkan. Padahal, menurutku, berbeda itu tidak apa-apa. Bisa dipelajari dulu, dan memang tidak perlu semua seragam. Bahkan agama pun memiliki lebih dari satu madzhab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jg nemu gitu mbak, kasus yg mirip.. Di kampus, eh ga. Bahkan sejak SMA, kelompok HTI selalu dijelek-jelekkan. Semakin digituin, aku jadi Semakin penasaran dong. Dan beneran akhirnya ketemu sama HTI, dan ternyata setelah aku dalami memang mereka jelek. Hahaha

      But, sampe skrg aku masih tetap berteman kok sama teman ku yg HTI

      oke lanjut. Terkait pemikiran yg berbeda, yaa memang tidak masalah. Aku pun tidak masalah sama mereka, namun ku hanya mengkritisi pemikiran mereka yg membentur benturkan terhadap agama. Dan seolah olah mengajak anak anak muda, "ayoo loh ini ikut pemikiran kami. Ini betul loh" padahal kan apa yg mereka ajarkan itu tidak sesuai ajaran Islam

      Trkait perbedaan mazhab, yaa itu tak masalah. Perbedaan dalam kerangka furu'(percabangan), bukan ushul (pokok). Perbedaannya hanya hal hal kecil semisal doa qunut atau tidak, baca bismillah dikeraskan atau tidak, dsb. Ini tak mwngapa kalo berbeda.

      Kalo perkara ushul, pokok, yg tdk boleh berbeda.
      Semua ulama 4 mazhab sepakat jilbab wajib, lah yg liberal td bilang kalau jilbab kudu dibuka, jilbab hnya di tempat pengajian saja.
      Nah ini yg jadi masalah. Hehehe

      Hapus
    2. Oh yaa, biar tak salah persepsi. Aku tidak men-judge teman teman ku yg tidak pake jilbab yaa. Itu hak masing2. Yg aku kritisi adalah pernyataan yg membentur-benturkan mengenai jilbab...

      Hapus
  27. Artikel yang menarik mas dodo. Aku mesti baca berulang agar memahami apa yang disampaikan mas dodo.
    Ngomong-ngomong tentang liberalisme, tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kebebasan hak asasi seseorang. tidak hanya liberalisme, demokrasi pun juga mengatur tentang kebebasan berpendapat setiap orang.

    liberalisme memang selalu dikaitkan dengan sebuah kebebasan yang absolut pada seseorang. Mungkin ketika berbeda pendapat dan pemikiran banyak yang menuduh seseorang liberal. Padahal hal tersebut merupakan hal yang biasa dalam sebuah demokrasi. Norma dan aturan kebiasaan membuat masyarakat sulit untuk menerima pendapat-pendapat yang berbeda.

    Mengenai "penghukuman" bagi yang melakukan tindakan asusila rasanya tidak perlu sih. Apalagi sampai memberi cap seseorang penganut liberal. Aku rasa kita juga ga berhak untuk melakukan penghukuman dalam bentuk apapun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali mas, btw saya tidak memberi penghukuman yaa. Sebab mereka, yg menulis twit2 tersebut, emang mendeklarasikan diri sebagai kelompok JIL,

      Hapus
  28. cukup menggelitik, pendidikan propaganda :D

    BalasHapus
  29. Saya rasa dalam ranah beragama sebagai muslim, kita punya kewajiban untuk menyampaikan kebenaran dan menolak kebathilan, perintah itu tentu berlaku umum bukan hanya dalam lingkup keluarga saja, keprihatinan terhadap generasi muda terutama pemuda muslim tentu hal yang mulia. Dalam konteks beragama khususnya dalam komunitas muslim perihal sex bebas tentu dilarang, pencegahan dan pelarangannya perlu ditegakkan sebagai bentuk penegakan syariat. Sedangkan untuk jalur hukum tentu saat ini kita tetap harus aturan aturan hukum yang berlaku di indonesia. Jadi menurut saya tugas menyampaikan kebenaran dan menolak kebathilan itu berlaku umum untuk setiap individu (dengan parameter benar salah itu berdasarkan Al Quran l, hadits, dan ijma ulama). Sedangkan pemrosesan secara hukum tetap mengikuti aturan hukum berlaku

    BalasHapus
    Balasan
    1. naah itu. Aku buat tulisan ini dalam perspektif islam hehee

      Hapus
  30. Kunjungan perdana ke blog ini. Berat juga bahasannya tentang liberal. Kebebasan yang sebenarnya tetap harus ada batasannya, baik dari moral, hukum, agama. Dan satu lagi, kebebasan impian setiap orang adalah kebebasan berpendapat dan kebebasan finansial hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seingatku, ini bukan kunjungan pertama pak Vicky. Sudah beberapa waktu yg lalu pernah mengunjungi blog ini juga hehee

      Hapus
  31. Dulu yang ku tahu prinsip liberalisme itu hanya ada ketika belajar tentang sistem ekonomi negara wkwk.

    Bagus nih kak tulisannya, ditunggu next nya gimana cara menghadapi teman yang memegang prinsip liberal

    BalasHapus
    Balasan
    1. caranya adalah.. tidak usah dihadapin haha
      eh, maksudnnya ya udah biarin aja, saling menghormati mau gimana, asal jangan saling ganggu

      semoga jawaban ini tidak menjawab :")

      Hapus
  32. Gils ini mah, entah apa yang membuat aku terpaku di kalimat terajgir

    BalasHapus
  33. Sefruit paham liberal yang secara tak langsung bisa merusak jalan pemikiran generasi sekarang dan selanjutnya. Sepakat sih, dari pembiaran seperti itulah yang akan berujung menjadi pembiasaan, dan menjadi suatu kenormalan yang bathil.
    Dan yang lebih ironinya, ketika ada seorang muslim yang mengingatkan keburukan tersebut biasanya akan dicaci-maki, dikata-katain kadrun lah, norak lah, kuno lah, dsb. I mean WTF b!tch? We're just trying to obey our religion rules dammit

    BalasHapus
  34. Duh kebanyakan "kita" mencomot definisi yang sesuai sama keinginan, yang bertentangan sama keinginan kita mah pokoknya salah aja. Bahkan sengaja dijadikan pembenaran supaya apa yang dilakukan benar terus:(

    BalasHapus
  35. Adududuh sepertinya jagat twitterku masih aman kaga ada nih cuitan macam yang kak Dodo bilang. Hmmm makin ke sini kayanya makin horor yaaa. Uda kaya ga punya batas lagi. Makanya ini jadi beban sebagai orang tua kelak untuk membentengi anaknya dengan moral-moral yang berlaku, serta iman untuk seturut yang Tuhan mau. Semoga generasi depan bangsa ini menjadi lebih baik ya bukan malah makin bobrok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mbak.. Ini jd beban buat orang tua nih. Semoga generasi ke depan jd lebih baik yaaa

      Hapus
  36. kalo ada bacaan semacam ini di twitter sih, fix aku males bacanya, hehe.. paling cuma geleng-geleng, terus mikir semoga orangtuanya di beri sabar, hehe..

    zaman sekarang anak-anak memang butuh pengawasan ekstra nih dari orangtua, supaya nggak melenceng. nah itu dia tugas utamaku sebagai seorang ibu :D

    semogalah kita dijauhkan dari hal-hal yg nggak baik ya Do..

    BalasHapus
  37. Aku aliran apa yahh. Ah entahlah kadang kalo aku ini dibilang polos ya polos. Kalo ditanya ini itu kadang tau, kadang enggak. EntahlahhπŸ˜‚

    BalasHapus