Surat untuk Kamu




Aku suka kamu. Itulah inti surat dariku. Rasa ini, sudah sejak enam tahun lalu. Timbul ketika di semester satu.

Mungkin kamu tidak ingat. Tapi, aku masih ingat betul saat itu. Tetiba ada satu pesan di aplikasi Line. Berasal dari seorang yang belum ada di kontakku, "Afwan, boleh masukin aku ke grup kelas?"
Tentu saja aku menjawab, "Oh yaa. Boleh. Nanti aku invite," klik, pesan itu terkirim.

Itu adalah pesan pertama darimu. Dengan profil picture Sakura (tokoh dalam serial kartun Naruto), namun mengenakan jilbab. Aneh sekali menurutku foto profil seperti itu.
Tapi, sebenernya ada hal yang lebih aneh lagi. Kenapa aku mengingat hal retjeh nan tidak penting seperti ini. Hahaha!
Oh yaa. Namanya juga udah suka. Hal yang tidak penting pun, serasa menjadi maha penting. Hemmm...

Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa aku bisa suka kamu.
Mungkin ini ada dalam benakmu. Tapi mungkin juga tidak. Sebab kamu tidak peduli denganku. Xixiixii.

Yaa, menurutku kamu agak berbeda. Ciwi-ciwi di kampus ada yang berjilbab, ada yang tidak. Yang berjilbab, jilbabnya biasa saja. Mereka pun masih mengenakan celana panjang.

Kalau kamu?
Jilbabmu besar dan lebar. Menutup hampir seluruh tubuh. Mengenakan gamis dan rok. Kaus kaki selalu dikenakan (toh kaki termasuk aurat perempuan, jadi adalah betul bagi perempuan mengenakan kaus kaki ketika di lingkungan umum).

Oh yaa, satu lagi. Ketika dalam suatu acara organisasi kampus, outbond katakanlah. Kamu masih saja mengenakan rok dan kaus kaki. Di saat ciwi-ciwi lain mengenakan celana panjang training dan tanpa kaus kaki.
Padahal, saat itu kita hendak main becek-becekan dan lumpur-lumpuran. Kamu satu-satunya yang mengenakan pakaian itu. Apa tidak sulit ya? Pasti ribet sekali nampaknya.

Itulah yang membuatku kagum kepadamu. Sangat teguh pendirian terhadap apa-apa yang kamu yakini.
Tapi yaa itu. Aku terkadang masih meragu. Terhadap rasa yang ada dalam diriku.
Apakah hanya sebatas kagum, terhadap orang yang teguh pendirian.
Atau hanya sebatas suka, cocok diajak menjadi teman ngobrol diskusi (terutama politik, pergerakan, dan sebagainya, sebab kita sama-sama simpatisan partai yang sama, wowkwk).
Atau mungkin lebih dari itu. Cinta. Ada rasa lebih dari sekedar ingin menjadi teman diskusi. Melainkan teman sehidup semati. Rasa ingin memiliki. Hiiihi.

Sebenarnya, ada satu hal lagi yang membuatku ragu. Apakah aku pantas untukmu? Apakah kita kufu? Aku tidak tahu.
Dengan apa yang aku lihat, pendirianmu yang sangat kuat terhadap Islam. Tahu batasan-batasan. Menjaga diri dari hal-hal yang tak diperkenankan. Itulah kamu.
Sedangkan aku, yaa masih gini-gini aja. Mungkin, tidak se-kencang dirimu dalam ber-Islam.

Kini. Kita sudah sama-sama berada di sekitaran Ibukota Negara. Kamu di ujung utara, aku di barat daya.
Emang agak jauh, ya.
Namun, kalau mau jumpa, tetap bisa. Tiga jam naik motor waktu tempuhnya.

Muncul pertanyaan baru. Kenapa aku menulis ini?
Sebenarnya beberapa waktu lalu, salah satu penerbit terkenal membuat event; Surat Anonim dari Kamu untuk Dia.
Lima surat terpilih akan dikirimkan penerbit ke orangnya langsung.
Rencananya, tulisan ini akan aku kirimkan ke event tersebut.

Tapi, ah... Rasa-rasanya aku tidak punya nyali. Kalau suratku benar-benar terpilih dan diantarkan langsung oleh penerbit kepadamu; Aku harus bilang apa?

Ada dua kemungkinan. Pertama, kamu punya rasa yang sama denganku. Maka selanjutnya adalah, kita bisa melanjutkan pembicaraan ini ke arah yang lebih serius.

Tapi, tetap saja. Aku tidak yakin. Apakah kamu mau dengan orang sepertiku, dan apakah kita kufu?
Lagi-lagi, tapi (mon maap kebanyakan tapi-nya wkwwkk), aku tetap harus optimis. Kata kawan yang lain, ada kemungkinan kamu juga ada rasa yang sama sepertiku (walaupun masih sedikit, tapi besok-besok kan bisa ditumbuhkan). Tidak semua laki-laki bisa ajak kamu jalan.

Tapi, aku? Tentu saja bisa! Dan yang terpenting adalah, bukan aku yang mengajakmu jalan, melainkan kamu yang mengajakku. Aku sudah selangkah lebih maju daripada laki-laki lain di luar sana. Hehehe.

Kemungkinan kedua. Rasional saja. Hubungan kita hanya sebatas pertemanan. Rekan diskusi. Tidak lebih. Aku saja yang berharap terlalu jauh kepada kamu. Padahal mah, berharap itu hanya kepada Allah! :((
Mau dibawa kemana mukaku kalau mengirim surat "aneh" ini kepadamu.

Kesimpulannya; Surat ke penerbit tidak jadi aku kirimkan. Biarlah aku tulis di blog ini saja. Aku tidak berharap kamu baca tulisan ini sih, tapi ya kalau kamu baca. Tidak apa-apa. Mohon maaf kalau tulisannya tidak jelas. Ehehe..

Ditulis dalam perjalanan bus, di tengah hiruk-pikuk jalanan Jabodetabek.


Sumber gambar; bobo.grid.id

Share:

43 komentar

  1. Sepertinya saya ngeuh partai mana yang Kang Mas Joe jadi simpatisan yang sama dengan sang gadis yang (tadinya) akan dikirimi surat... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayooo tebak partai apa kang ehehehee

      Hapus
    2. Aku tahu tapi tidak enak kalo terus terang, aku kasih singkatannya saja deh yaitu PKS. 😄

      Hapus
  2. sekufu aku pernah dengar istilah itu
    memang rumit masalah persuratan ini hahahha

    BalasHapus
  3. kenapa kamu cuma nulis doang disini, kami butuh aksi yg nyata, tembak, katakan cinta padanya, itu saja sih wkwkwk

    BalasHapus
  4. Aku yg daritadi mikir Kufu apaan.. wkwk 😄😄

    Yahh Mas Doo kok nggak jadi.. harusnyaa jadiin. Nggak papa. Biarkan perasaan ini tersampaikan *tsaaaahhh 😆.. aku doain semoga Tulisan di Blog ini tersampaikan kepadanya.? Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kufu itu, bisa dikatakan setara. Selevel. Sefrekeuensi. Kira kira gitu deh mas Bay hehehee

      Hapus
  5. Kalo cuma dipendam tidak akan tahu mas Dodo, katakan padanya kalo memang cinta.

    Ada dua jawaban, Alhamdulillah kalo diterima, kalo ditolak ya tidak apa-apa, cowok berani nembak, cewek berhak menolak.😅

    Eh lupa, mas Dodo kan masih kecil ya. 🏃💨

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya masoh bocah, om. Heheee....
      Doain aja. Tak lama lagi insha allah tanggal mainnya eaaakkk

      Hapus
  6. Udeehhh deketin nggak usah banyak mikirnya Do...Pantes apa nggaknya diri luh dihadapan dia biarlah waktu yang menjawab.😊😊😊


    Ingat Do, Kalau luh sering atau berani komunikasi sama dia, Bukan tidak mungkin kelebihan dan kekurangan luh dia pasti tahu...Syukur2 kekurangan serta kelebihan luh jadi motivasi buat dia, Dan karna itu pula bisa jadi cinta..👩‍❤️‍💋‍👩👩‍❤️‍💋‍👩👩‍❤️‍💋‍👩👩‍❤️‍💋‍👩


    Kalau belum apa2 udah kaya lintah kena garem mending sunat lagi Do..🤣🤣🤣

    BalasHapus
  7. So sweet, mas Dodo 😁

    Ayo kirim ke orangnya, siapa tau dapat jawaban diluar dugaan 😍 Ehya by the way dari Jakarta Utara ke Barat bisa 3 jam sekarang? Beuuuh tua di jalan dong yaaah hahaha. Macam Jakarta ke Bandung saja rasa-rasanya 😂 *salfok saya*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku bukan di Jakarta barat mbak. Tapi di Barat Jabodetabek alias di suatu pelosok kabupaten di Provinsi Banten ahahahaaa

      Hapus
    2. Pantesan mas Do, aku tadi mikir, dari jakbr ke Jakut 3 jam, itu lewat mana 🤣?. Ternyata daerah Banten, hahahha. Wajar kalo itu.

      Semoga dilancarkan mas Do. Kalo memang ini jodoh, ga akan kemana kok :).

      Hapus
  8. Ayo mas Dodo tulisannya beneran dikirim Pake surat pribadi juga bagus kok. Ga boleh ditahan-tahan. Ayo sampaikan saja ke yang bersangkutan. Daripada nanti nyesel karena belum tersampaikan...hahhahahaa

    BalasHapus
  9. Aku saja yang berharap terlalu jauh kepada kamu. Padahal mah, berharap itu hanya kepada Allah! :((
    Mau dibawa kemana mukaku kalau mengirim surat "aneh" ini kepadamu.>>> keren, Mas. Selamat malam. Selamat istirahat

    BalasHapus
  10. Dikirimi penerbit atau pun dia baca di blog, bukannya sama-sama baca ya.
    Hmmm,,, sudah enam tahun ya,,, selama itu kah memendam rasa. 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda itu mba mau di blog atau ke penerbit. Kalo ke penerbit kan bakal dikirim ke doi (kalo menang, heheee)

      Hapus
  11. Eh kak nggak apa-apa lho dikirim, kan selain menang terus dikirim ke yang besangkutan juga dapet hadiah kan? hahaha. Jakarta itu sempit sh, kalau memang niat temui saja. Apalagi kalau dah siap hihi cewek itu kadang nunggu sih, nggak maju duluan. Jadi kuncinya ada di si cowok. Hahaha. Kalu ditolak ya harus bisa berlapang dada :') tapi kalau diterima? uhuk.

    BalasHapus
  12. Mas dodo selalu deh tulisannya kebanyakan galau hahaha
    Langsung aja mas dikirim suratnya kalau udah yakin, jangan menyesal ditikung orang lain lhooo :D

    BalasHapus
  13. Ditulis di perjalanan dalam bus? Mantap sekali. Apalagi kalau ditulis di meja khusus. Surat ini pasti sampai ke alamat. He he ... Selamat malam ananda.

    BalasHapus
  14. so sweet banget uwuwuuw...hahhahah aku bacanya jadi senyum senyum

    semoga ia jodohmu ya do hehe

    BalasHapus
  15. Mass kenapa beraninya cuma ditulis di blog doang? Ayo dong tujukkan aksi nyata mas wkwkwkk

    Btw, aku salfok sama kalimat terakhir mas, "Ditulis dalam perjalanan bus, di tengah hiruk-pikuk jalanan Jabodetabek", emang di bus bisa gitu nulis surat seromantis ini? seumur2 aku naik bus di Jkt ini penuh, desak2an, boro2 mau nulis surat mas, berdiri aja takut ada copet wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nulisnya di bus karyawan mbak, jadi aman dan ga desak-desakan. ga ada yang berdiri, duduk semua... dan ga ada copet juga eheheheeee

      Hapus
  16. Senyum-senyum sendiri baca ini, wkwkwk...
    So sweet, kenapa ga jadi dikirim? sayang banget. Ayo, kuatkan jangan kalah nanti keburu dikhitbah orang, hihii

    BalasHapus
  17. Dengan menulis surat ini di blog sudah merupakan satu langkah tuh Mas.
    Tinggal langkah nyatanya ada dunia nyata.
    Ayo nyatakan Mas. Semangat 💪

    BalasHapus
  18. Langsung lamar aja, doooooo. Dia itu wife material banget, lho. Kapan lagi bisa menemukan cewek baik cantik, shaliha, dan bener-bener bisa menjaga diri gituuuuuu. 😆

    Aku bilang lagi ke kamu. Serius, cepet lamar. Sebelum keduluan cowok lain. 😳

    BalasHapus